Punya Rasa Mirip Kopi, Teh Gambyong Kemuning Kini Tembus Omzet Rp300 Juta
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Berawal dari usaha rumahan dengan modal sekitar Rp8 juta, Teh Gambyong Kemuning di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, kini berkembang menjadi salah satu produk teh lokal yang mulai memperluas pasar hingga tingkat nasional.
Usaha yang dirintis Eko Wuryanto Wicaksono tersebut kini mampu mencatat omzet sekitar Rp250 juta hingga Rp300 juta per bulan. Perkembangan itu ditopang oleh kemitraan dengan petani, diversifikasi produk, penguatan kapasitas produksi, serta perluasan jaringan pemasaran.
Eko mulai melihat peluang bisnis teh setelah memiliki pengalaman bekerja di perusahaan teh sejak 2010. Ia melihat potensi perkebunan teh di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, yang tidak hanya menjadi sentra perkebunan, tetapi juga berkembang sebagai kawasan wisata.
“Teh itu salah satu kebutuhan yang hampir setiap hari dikonsumsi masyarakat. Kebetulan lingkungan tempat saya tinggal juga berada di kawasan perkebunan teh,” ujar Eko, Rabu (7/10/2026).
Menurut Eko, wisatawan yang datang ke Kemuning tidak sekadar menikmati panorama perkebunan teh. Sebagian juga tertarik membeli produk teh lokal dan melihat langsung proses pengolahannya.
Peluang tersebut mendorong Eko keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan membangun usaha sendiri. Namun, perjalanan Teh Gambyong tidak langsung mulus.
Pada masa awal, produksinya hanya sekitar 50 kilogram per bulan. Produk yang dihasilkan bahkan tidak selalu habis terjual. Omzet yang diperoleh sekitar Rp300.000 per bulan, jauh di bawah pendapatannya ketika masih menjadi karyawan perusahaan teh.
Eko kemudian mengubah strategi dengan memperkuat sisi hulu melalui kemitraan dengan petani. Sejak 2015, ia mulai membangun kerja sama dengan kelompok tani untuk memastikan ketersediaan bahan baku.
“Saya bekerja sama dengan warga mulai tahun 2015. Jadi 2014 saya merintis usaha, terus 2015 kita berkumpul dengan para petani, dengan kelompok tani untuk membahas bagaimana saya bisa menyuplai bahan bakunya oleh para petani,” kata Eko.
Kemitraan tersebut kini melibatkan sekitar 26 petani yang tergabung dalam gabungan kelompok tani (Gapoktan). Eko juga melibatkan puluhan pemetik untuk menjaga pasokan bahan baku teh.
Dari produksi awal puluhan kilogram, kapasitas pengolahan Teh Gambyong kini berkembang hingga sekitar 6 ton teh per bulan. Produksi tetap dipengaruhi kondisi cuaca.
Pada musim penghujan, pasokan dapat mencapai sekitar 1-1,5 ton per hari. Namun, ketika musim kemarau, produksinya dapat turun menjadi sekitar 300-600 kilogram per hari.
Kondisi tersebut membuat kemitraan dengan petani menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan bahan baku sekaligus produksi.
Tidak hanya meningkatkan kapasitas, Teh Gambyong juga terus mengembangkan produk untuk menjangkau selera konsumen yang lebih luas.
Saat ini, produk yang dikembangkan mencakup teh hijau, teh hitam, teh putih, dan teh oolong dengan sekitar 16 varian. Beberapa di antaranya adalah melati, jahe, rempah, serai, mint, leci dan markisa.
Eko menjelaskan, karakter tersebut bukan berasal dari campuran kopi, melainkan karakter alami teh yang tumbuh di kawasan Kemuning. Kondisi tanah dan sejarah perkebunan di kawasan tersebut turut memengaruhi karakter tanaman teh.
Selain produk teh konvensional, Teh Gambyong juga mulai mengembangkan matcha dan teh putih. Produk matcha bahkan mulai diminati sejumlah restoran di Jakarta, meski kapasitas produksinya masih terbatas sekitar 15-20 kilogram per bulan.
Pasar Teh Gambyong kini tidak lagi terbatas di Karanganyar. Jawa Tengah dan kawasan Jabodetabek menjadi sejumlah wilayah utama pemasaran produk.
Pertumbuhan bisnis juga terlihat dari jaringan pemasaran. Jumlah reseller yang pada 2025 sekitar 235 orang kini meningkat menjadi sekitar 620 reseller.
Pertumbuhan jaringan tersebut ikut mendorong kenaikan omzet. Pada 2023, omzet Teh Gambyong masih berada di kisaran Rp85 juta per bulan. Kini angkanya meningkat menjadi sekitar Rp250 juta hingga Rp300 juta per bulan.
Perluasan pasar juga mendapat dorongan dari keikutsertaan dalam berbagai pameran dan kegiatan promosi. Salah satunya melalui Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 di Surabaya pada Juli lalu.
Dari kegiatan tersebut, Teh Gambyong mendapatkan pembeli dari Boyolali yang kini memesan sekitar 3.000 pieces produk setiap hari. Nilai transaksi dari satu pembeli tersebut mencapai sekitar Rp6 juta per hari.
“Unik juga, mitra kami dari Boyolali justru bertemu di Surabaya. Dari satu buyer saja, setiap hari kami bisa mendapatkan sekitar Rp6 juta,” kata Eko.
Di sisi lain, sejumlah pabrikan juga telah menyatakan minat mendapatkan pasokan teh hitam dari Teh Gambyong. Namun, Eko belum dapat memenuhi permintaan tersebut karena kapasitas produksi masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.
“Kami sebenarnya sudah ada beberapa pabrikan yang ingin mengambil produk. Tetapi kebutuhan kami sendiri belum tercukupi, sehingga belum bisa menyuplai,” katanya.
Perkembangan Teh Gambyong juga tidak terlepas dari pendampingan Bank Indonesia melalui program pembinaan UMKM. Dukungan tersebut mencakup sarana produksi, peralatan pengolahan, pelatihan, promosi hingga akses pasar.
Menurut Eko, bantuan sarana produksi dan pelatihan turut meningkatkan kapasitas produksi sekitar 30-40 persen dibandingkan sebelumnya.
Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong Teh Gambyong tidak hanya bertahan sebagai usaha lokal, tetapi mampu memperluas pasar secara berkelanjutan.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Yono Haryono mengatakan, pengembangan UMKM tidak cukup hanya melalui pelatihan. Penguatan kelembagaan, pembiayaan, legalitas dan akses pasar juga diperlukan agar UMKM mampu naik kelas.
“Visi yang ingin kita dorong ketika kita memfasilitasi UMKM adalah bagaimana UMKM itu bisa naik kelas,” ujar Yono dalam kegiatan capacity building media 2026 di Solo.
Menurut Yono, salah satu fondasi penting pengembangan UMKM adalah korporatisasi atau penguatan kelembagaan. Pelaku usaha, khususnya di sektor pertanian, dinilai akan lebih kuat jika tidak berjalan sendiri.
Petani yang sebelumnya bekerja secara individual didorong membangun kelompok tani (Poktan), kemudian berkembang menjadi gabungan kelompok tani (Gapoktan), hingga memiliki peluang membentuk koperasi.
“Kami melihat ketika mereka bisa bersinergi dan berkelompok, itu menjadi lebih kuat,” kata Yono.
Editor: Arif Ardliyanto