Tanpa Galon dan Layanan Antar, Cara Depot Air Minum ini Tekan Harga
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – PT Biru Semesta Abadi, perusahaan pengelola Depot Air Minum (DAM) Biru menerapkan model bisnis tanpa menyediakan galon dan layanan pengiriman ke rumah pelanggan untuk menekan biaya operasional.
Strategi ini memungkinkan perusahaan menawarkan air minum dengan harga lebih terjangkau dibandingkan air minum dalam kemasan pabrikan.
Pendiri sekaligus Direktur Air Minum Biru, Yantje Wongso, mengatakan perusahaan berfokus pada penyediaan air minum dan pelayanan langsung di gerai. Pelanggan membawa galon sendiri dan datang ke lokasi untuk mengisi ulang air.
“Biaya penyediaan galon dan distribusi merupakan komponen besar dalam bisnis air minum dalam kemasan. Kami memangkas biaya tersebut dan berkonsentrasi pada kualitas air minum serta pelayanan di gerai,” ujar Yantje disela peluncuran produk baru, yakni Air RO yang menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO) di gerai Biru di Jalan Barata Jaya Nomor 30, Surabaya, pada Minggu (11/10/2026).
Menurut dia, model bisnis tersebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan BIRU menjaga harga tetap terjangkau. Perusahaan juga memilih sumber air baku yang relatif dekat dengan gerai untuk mengurangi biaya transportasi.
Yantje menjelaskan, harga air Biru di Surabaya saat ini sekitar Rp10.000. Sementara itu, di sejumlah daerah lain, harganya berkisar Rp6.000 hingga Rp6.500. Perbedaan harga dipengaruhi biaya air baku dan transportasi di masing-masing wilayah.
Selain mengandalkan efisiensi biaya, Biru juga memperluas pilihan produk sesuai kebutuhan pelanggan. Perusahaan baru saja memperkenalkan layanan air Reverse Osmosis (RO) di gerai Baratajaya, Surabaya.
Layanan tersebut menjadi yang pertama di jaringan Biru. Melalui teknologi RO, air diproses menggunakan membran khusus untuk menyaring berbagai kandungan sehingga mineral yang tersisa sangat sedikit.
Yantje mengatakan, teknologi RO membutuhkan investasi lebih besar dibandingkan pengolahan air reguler. Meski demikian, perusahaan memutuskan menyamakan harga air RO dengan harga air Biru reguler.
“Kami memikirkan bahwa pelanggan membeli dalam jumlah banyak. Investasinya memang tinggi, tetapi kami berharap penjualannya juga bisa mendukung pengembalian investasi. Karena itu, kami memutuskan harganya disamakan dengan harga air Biru,” katanya.
Kehadiran Air RO menjadi langkah Biru dalam mengakomodasi kebutuhan dan preferensi konsumen yang semakin beragam. Produk tersebut menambah pilihan di jaringan DAM yang telah dikembangkan selama 24 tahun.
Pendiri sekaligus Direktur Air Minum Biru, Yantje Wongso, mengatakan, pihaknya melihat kebutuhan masyarakat terus berkembang. Karena itu, DAM Biru memfasilitasi kebutuhan tersebut dengan menghadirkan pilihan yang semakin beragam.
“Air RO dihadirkan bukan untuk menggantikan Air Biru yang diproses dengan 100% Teknologi Ozon, tetapi untuk memberikan pilihan baru yang sama-sama baik dan dapat menjawab kebutuhan serta preferensi konsumen yang berbeda,” ujar Yantje, Minggu (11/10/2026).
Menurut Yantje, jaringan Depot Air Minum Biru yang telah mencapai lebih dari 845 gerai di berbagai wilayah Indonesia menjadi ekosistem untuk memperluas akses konsumen terhadap pilihan air minum isi ulang.
Reverse Osmosis merupakan teknologi pengolahan air yang menggunakan tekanan untuk melewatkan air melalui membran semipermeabel guna memisahkan berbagai zat terlarut.
Air RO dari Biru diproses menggunakan teknologi RO dan ozon. Menurut perusahaan, proses tersebut menghasilkan air dengan kandungan mineral terlarut sangat rendah sehingga memiliki karakter rasa yang lebih ringan.
Yantje menjelaskan, pengembangan produk berbasis RO tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi pengolahan air, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut diterapkan dalam produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
“Depot Air Minum Biru melihat RO sebagai salah satu pilihan teknologi yang dapat dikembangkan di dalam ekosistem Biru. Yang terpenting adalah bagaimana teknologi tersebut diterjemahkan menjadi produk yang relevan bagi konsumen, mulai dari standar kualitas, akses, hingga karakter rasa dan harga yang ditawarkan,” jelasnya.
Surabaya dipilih sebagai lokasi peluncuran perdana karena menjadi tempat berdirinya kantor pusat PT Biru Semesta Abadi, perusahaan pengelola Air Minum Biru. Kota ini juga menjadi titik awal pengembangan konsep usaha, teknologi, dan standar operasional DAM isi ulang Biru.
“Melalui peluncuran di Surabaya, kami akan melihat respons konsumen sebagai bahan evaluasi untuk pengembangan Air RO di gerai dan kota lain di Indonesia,” terangnya.
Pada 2026, perusahaan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Yantje menyebut penjualan Biru dipengaruhi kondisi cuaca, tetapi secara umum terus meningkat selama perusahaan beroperasi.
“Saat pandemi Covid-19, pertumbuhan perusahaan bahkan sempat mencapai sekitar 24 persen,” jelasnya.
Editor: Arif Ardliyanto