Bayi 28 Hari Meninggal, IDAI Ingatkan Risiko Serius Pemberian Telur Mentah
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua dan pengasuh agar tidak memberi makanan pada bayi sebelum waktunya, termasuk telur mentah atau setengah matang.
Pemberian makanan yang tidak sesuai usia dan kesiapan perkembangan bayi berisiko mengganggu kesehatan. Bahkan dapat memicu komplikasi serius.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kabar meninggalnya Alena, bayi berusia 28 hari yang menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Jawa Timur.
Sebelum meninggal dunia, Alena dikabarkan mengalami demam tinggi dan diduga diberi telur mentah oleh neneknya. Namun, hubungan antara dugaan konsumsi telur mentah dan penyebab kematian bayi tersebut belum dipastikan secara medis.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), menjelaskan bahwa pemberian makanan kepada bayi harus mempertimbangkan kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan.
“ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan tetap merupakan rekomendasi utama. Pemberian MPASI lebih awal, sejak usia empat bulan, hanya dipertimbangkan pada kondisi tertentu berdasarkan penilaian medis dan bukan merupakan anjuran umum,” ujarnya, Senin (12/10/2026).
IDAI menegaskan bahwa bayi yang belum memasuki usia pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) tidak memerlukan makanan atau minuman lain. Termasuk air putih, jus, kaldu, maupun bahan makanan yang diencerkan.
Apabila pemberian ASI tidak memungkinkan atau terdapat indikasi medis tertentu, susu formula bayi dapat diberikan sesuai penilaian tenaga kesehatan.
Secara umum, MPASI mulai diberikan ketika bayi berusia enam bulan. Pada tahap tersebut, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melampaui jumlah yang dapat dipenuhi hanya melalui ASI. Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak bayi berusia empat bulan atau 17 minggu.
Namun, keputusan tersebut harus berdasarkan penilaian dokter dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, serta kesiapan perkembangan bayi. “Pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan,” jelas Piprim.
Karena itu, orang tua tidak disarankan memberikan makanan lebih awal hanya karena bayi terlihat tertarik pada makanan atau mengikuti kebiasaan yang berkembang di masyarakat.
Kesiapan bayi menerima MPASI perlu dinilai secara menyeluruh. Beberapa indikatornya meliputi kemampuan mempertahankan posisi kepala dan leher, duduk dengan bantuan, mengkoordinasikan gerakan mulut dan menelan, serta menerima makanan dari sendok.
Makanan yang tidak sesuai dengan usia, kemampuan menelan, atau tekstur yang dapat ditoleransi bayi berisiko meningkatkan kemungkinan tersedak, aspirasi, dan gangguan pemberian makan.
Selain menyoroti waktu pemberian MPASI, IDAI mengingatkan risiko pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak.
Telur yang tidak dimasak hingga matang berpotensi mengandung bakteri Salmonella, penyebab infeksi saluran cerna atau salmonelosis. Infeksi ini dapat menimbulkan gejala berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berkembang lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
Sebaliknya, telur yang dimasak hingga matang merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung berbagai zat gizi penting untuk mendukung pertumbuhan anak. Proses pemasakan yang tepat juga membantu meningkatkan keamanan pangan dan daya cerna protein telur.
Telur dapat diperkenalkan sebagai salah satu bahan MPASI ketika bayi telah mencapai usia dan kesiapan untuk menerima makanan pendamping. Tekstur penyajiannya harus disesuaikan dengan kemampuan makan bayi.
IDAI juga menjelaskan bahwa pemberian telur tidak perlu ditunda hingga anak berusia satu tahun semata-mata untuk mencegah alergi, kecuali terdapat pertimbangan medis khusus.
Untuk mengurangi risiko infeksi, orang tua dan pengasuh diimbau memastikan telur dimasak hingga bagian putih dan kuningnya matang sempurna.
Jika menyiapkan hidangan berbahan telur yang tidak dimasak secara sempurna, disarankan menggunakan telur yang telah dipasteurisasi sesuai standar keamanan pangan.
Editor: Arif Ardliyanto