Diikuti 700 Peserta, Safety Stride di Surabaya Dorong Budaya K3 Tak Sekadar Aturan
Wakil Rektor III ITS Bidang Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Teknologi & Sistem Informasi (SDMO dan TSI), Imam Baihaqi, S.T., M.Sc., Ph.D., menekankan bahwa nilai-nilai keselamatan perlu menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa dan kehidupan masyarakat.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keselamatan, kesehatan, dan lingkungan. Melalui kolaborasi seperti Safety Stride, nilai-nilai tersebut dapat disampaikan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda dan masyarakat,” kata Imam.
Sinergi tersebut juga membuka peluang bagi keterlibatan Program Studi K3 dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur. Dengan dukungan akademisi dan mahasiswa, kampanye keselamatan diharapkan tidak berhenti di ruang kuliah, laboratorium, maupun kawasan industri.
Edukasi K3 diharapkan semakin dekat dengan aktivitas masyarakat, termasuk saat berolahraga, berkegiatan di lingkungan tempat tinggal, maupun menjalankan pekerjaan sehari-hari.
Safety Stride Diharapkan Berlanjut Jadi Gerakan Bersama
Wakil Ketua DK3P Jatim sekaligus penanggung jawab Safety Stride, Edi Priyanto, S.K.M., M.M., menilai tantangan terbesar kampanye K3 adalah mengubah pengetahuan menjadi perilaku yang diterapkan secara konsisten.
“Safety Stride perlu kita maknai sebagai titik awal, bukan tujuan akhir. Ke depan, kampanye K3 perlu terus dikembangkan melalui berbagai pendekatan kreatif dengan melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Harapannya, setiap peserta tidak hanya membawa pulang pengalaman berolahraga, tetapi juga semangat untuk menjadi duta keselamatan di lingkungannya masing-masing,” jelas Edi.
Ia menambahkan, keberhasilan kampanye keselamatan tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta yang hadir. Dampak yang lebih penting adalah tumbuhnya kepedulian dan kebiasaan untuk saling mengingatkan agar risiko kecelakaan dapat dicegah.
“Keberhasilan kampanye K3 tidak cukup diukur dari banyaknya peserta yang hadir. Yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan ini mendorong perubahan perilaku, memperkuat kepedulian, dan membangun kebiasaan untuk saling menjaga keselamatan,” katanya.
Edi juga mengapresiasi keterlibatan ITS, Program Studi K3 dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur, sponsor, panitia, tenaga kesehatan, komunitas K3, serta seluruh peserta yang mendukung kegiatan tersebut.
Menurutnya, kontribusi dosen dan mahasiswa dapat memperluas jangkauan edukasi keselamatan sekaligus mendorong generasi muda agar lebih memahami risiko dan mengutamakan pencegahan.
Dalam Safety Stride, pesan tersebut disampaikan melalui aktivitas fisik dan pemeriksaan kesehatan gratis. Peserta diajak membiasakan olahraga, mengenali kemampuan tubuh, serta memperhatikan keselamatan selama beraktivitas.
Pemeriksaan kesehatan juga menjadi pengingat pentingnya memantau kondisi tubuh dan melakukan pemeriksaan secara berkala sesuai kebutuhan. Pendekatan ini menegaskan bahwa prinsip K3 tidak hanya berkaitan dengan pencegahan kecelakaan kerja, tetapi juga upaya menjaga kesehatan.
Melalui Safety Stride, DK3P Jatim berharap kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dapat terus berkembang. Gerakan ini diharapkan menjadi fondasi kampanye K3 yang berkelanjutan, sehingga keselamatan bukan sekadar slogan atau aturan, melainkan budaya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: Arif Ardliyanto