Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Mengenang Nasirun, Pelukis Nyentrik yang Merawat Tradisi dalam Seni Kontemporer
Advertisement . Scroll to see content

Dicap Lagu Pemanggil Hantu, Lingsir Wengi Campursari Justru Berkisah tentang Cinta

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:29 WIB
  • author Andika
Dicap Lagu Pemanggil Hantu, Lingsir Wengi Campursari Justru Berkisah tentang Cinta
Di balik stigma mistis lingsir wengi, ada kisah cinta dalam tembang campursari. (Foto : ilustrasi AI).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id — Tembang Lingsir Wengi kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis dan dianggap sebagai lagu pemanggil makhluk halus. Persepsi tersebut tidak lepas dari pengaruh film horor yang menggunakan tembang bernuansa menyeramkan sebagai bagian dari adegan.

Padahal, Lingsir Wengi telah dikenal dalam tradisi musik Jawa, termasuk versi campursari yang memiliki makna berbeda. Penyamaan kedua versi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman sekaligus merugikan upaya pelestarian kesenian Jawa.

Dosen S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Danang Wijoyanto, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa istilah Lingsir Wengi merujuk pada waktu ketika malam semakin larut, sekitar pukul 01.00 dini hari. Sebelum dikenal melalui film horor, tembang tersebut telah hadir dalam versi campursari.

“Anggapan Lingsir Wengi identik dengan setan muncul karena pengaruh media. Akibatnya, Lingsir Wengi versi campursari ikut terbawa-bawa, padahal arti dan isinya sangat berbeda,” jelas Danang, Senin (26/10/2026).

Menurutnya, perbedaan kedua versi tersebut dapat dilihat dari musikalitas dan liriknya. Lingsir Wengi versi horor umumnya dilantunkan tanpa iringan musik, menyerupai *uro-uro* atau senandung. Sementara itu, versi campursari memiliki iringan instrumen musik dan vokal yang membentuk karakter musikal tersendiri.

Dari sisi lirik, Lingsir Wengi versi campursari mengisahkan seseorang yang awalnya hanya bersenda gurau dengan temannya, tetapi kemudian jatuh cinta. Ia berharap perasaannya berbalas, bisa terus bersama, dan tidak ada pihak yang saling mengingkari janji. Sebaliknya, penggunaan tembang dalam film horor menghadirkan suasana menyeramkan yang kemudian membentuk persepsi mistis di tengah masyarakat.

Danang menilai, penggambaran tersebut dapat merugikan pelestarian kesenian Jawa, terutama bagi generasi muda yang belum mengenal kebudayaan daerahnya secara mendalam.

“Anak-anak yang belum tahu budaya Jawa akhirnya hanya mengenal dari media. Tembang yang seharusnya bisa menghibur, menenteramkan hati, dan mengasah kepekaan rasa justru membuat mereka takut. Ini sangat merugikan pelestarian kesenian Jawa,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa tradisi Jawa memiliki beragam tembang dan lantunan yang digunakan dalam konteks budaya tertentu, termasuk sebagai bagian dari permohonan keselamatan atau penolak bala. Karena itu, kesenian Jawa tidak semestinya langsung dikaitkan dengan praktik pemanggilan makhluk halus hanya berdasarkan gambaran dalam film.

Persoalan serupa, lanjut Danang, juga terlihat dalam pemahaman masyarakat terhadap sesaji dan ritual kesenian Jawa. Menurutnya, sesaji tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai sarana berkomunikasi dengan makhluk halus. Dalam sejumlah tradisi, sesaji mengandung simbol penghormatan kepada leluhur, hubungan spiritual dengan Tuhan, serta pengingat bagi manusia untuk menjaga alam.

“Filosofi budaya Jawa itu *memayu hayuning bawana*, yakni menjaga keharmonisan dunia. Unsur-unsur alam yang digunakan dalam sesaji juga memiliki makna simbolis. Jadi, jangan langsung menyimpulkan bahwa sesaji hanya untuk berkomunikasi dengan hantu,” tuturnya.

Danang menambahkan, tradisi ritual juga mempunyai dimensi sosial dan ekonomi. Penyediaan sesaji dapat menggerakkan perekonomian masyarakat, sedangkan kegiatan seperti selamatan bisa mempererat kebersamaan. Ketenangan yang dirasakan pelaku seni sebelum pertunjukan juga dapat membantu mereka mempersiapkan diri.

Untuk mengatasi stigma tersebut, Danang mendorong pemanfaatan media sosial dan pendekatan kreatif dalam mengenalkan kesenian tradisional. Unsur gamelan, kendang, tembang Jawa, hingga perpaduan musik tradisional dan modern dapat menjadi pintu masuk untuk menarik perhatian generasi muda.

“Menurut saya, anak-anak muda harus dikenalkan dan dibuat suka terlebih dahulu. Ketika mereka sudah tertarik dan penasaran, pendidikan berperan meluruskan pemahaman serta mengenalkan nilai-nilai budaya yang sebenarnya,” ungkapnya.

Ia menegaskan, musik tradisional tidak perlu dipertentangkan dengan musik Barat atau musik global. Keduanya dapat berjalan beriringan, baik melalui pendekatan konservatif yang mempertahankan bentuk tradisional maupun pendekatan progresif yang menggabungkan unsur kontemporer.

Danang juga mengingatkan bahwa minat generasi muda terhadap kesenian tradisional masih terlihat melalui kegiatan ekstrakurikuler gamelan dan tari di sekolah, sanggar seni, komunitas, hingga unit kegiatan mahasiswa di perguruan tinggi.

“Tidak semua anak muda harus menyukai kesenian yang sama. Namun, masih banyak yang menyukai budaya Jawa. Kita perlu memberikan ruang agar mereka bisa mengenal, menikmati, dan mengembangkan kesenian tradisional tanpa saling merendahkan,” pungkasnya.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut