Pasar Ekspor Meluas ke Polandia, Laba Perusahaan Manufaktur Sidoarjo Justru Tertekan, Ini Sebabnya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah mulai memengaruhi kinerja keuangan perusahaan manufaktur. Kondisi tersebut terlihat pada PT Multi Spunindo Jaya Tbk (MSJA), yang berhasil meningkatkan penjualan sepanjang Januari-September 2026, tetapi justru mencatatkan penurunan laba bersih.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), produsen kain nonwoven (bukan tenun) yang berbasis di Sidoarjo tersebut membukukan penjualan bersih sebesar USD 55,98 juta hingga kuartal III/2026.
Realisasi itu meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD 47,45 juta. Dengan demikian, penjualan MSJA tumbuh sekitar 17,98 persen secara tahunan.
Namun, peningkatan pendapatan tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan keuntungan perusahaan. MSJA mencatatkan laba bersih tahun berjalan sebesar USD 3,33 juta, lebih rendah dibandingkan USD 3,53 juta pada Januari-September 2025.
Corporate Secretary PT Multi Spunindo Jaya Tbk, Kent Handi Kurniawan, mengatakan pertumbuhan penjualan perusahaan mendekati 18 persen. Meski demikian, tekanan kondisi ekonomi makro membuat pencapaian laba tidak setinggi tahun sebelumnya.
“Namun karena ada kondisi ekonomi makro yang kurang baik maka laba bersih di tahun berjalan di kuartal III/2026 tidak sebesar di kuartal III/2025,” ungkap Kent.
Menurut dia, salah satu faktor yang memengaruhi kinerja tersebut adalah pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Pelemahan rupiah dinilai memberikan tekanan terhadap kondisi keuangan perusahaan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Di tengah tekanan ekonomi, permintaan terhadap produk nonwoven MSJA justru menunjukkan pertumbuhan. Kenaikan penjualan terjadi pada dua kelompok produk utama, yakni kebutuhan industrial dan higienis.
Kent menjelaskan, perusahaan memproduksi lembaran nonwoven berkualitas tinggi yang digunakan sebagai bahan baku berbagai produk industri, perawatan diri, hingga kebutuhan medis.
Berbeda dengan produk yang dipasarkan melalui jalur ritel, hasil produksi MSJA lebih banyak dipasok langsung kepada perusahaan manufaktur berskala besar untuk diolah menjadi produk jadi.
Hingga September 2026, pasar domestik masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 75 persen. Sementara itu, penjualan ekspor menyumbang sekitar 24,7 persen dari keseluruhan penjualan.
Untuk segmen industrial, produk MSJA telah menjangkau sejumlah negara, di antaranya Jepang, Australia, Tiongkok, Malaysia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.
Pada 2026, jangkauan pasar ekspor perusahaan juga bertambah setelah produknya mulai memasuki Polandia.
“Yang menggembirakan, tahun ini produk kita mulai masuk ke Polandia. Tentu saja ini capaian yang patut disyukuri karena menunjukkan bahwa produk Indonesia semakin diterima di pasar internasional,” kata Kent.
Pertumbuhan penjualan segmen industrial di pasar ekspor salah satunya ditopang peningkatan permintaan dari Amerika Serikat. Selain itu, pasar Tiongkok dan Selandia Baru juga menunjukkan penambahan pesanan.
Sementara di dalam negeri, peningkatan penjualan dipengaruhi munculnya aplikasi atau penggunaan baru yang mendorong kebutuhan pelanggan terhadap produk nonwoven.
MSJA juga memperoleh pelanggan baru dari perusahaan multinasional besar asal Swedia yang memiliki jaringan usaha di Malaysia. Kerja sama tersebut berpotensi membuka peluang penggunaan produk MSJA di jaringan perusahaan tersebut di negara lain.
Di sisi lain, pertumbuhan tidak hanya terjadi pada produk industrial. Segmen higienis juga mencatat peningkatan pesanan, baik dari pelanggan domestik maupun luar negeri.
Sejumlah pelanggan dari Thailand, Irlandia, Malaysia, Jepang, dan Vietnam tercatat meningkatkan pembelian produk untuk kategori tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk nonwoven masih memiliki ruang pertumbuhan, meskipun perusahaan manufaktur harus menghadapi tekanan nilai tukar dan tantangan ekonomi global.
Kenaikan penjualan MSJA hingga kuartal III/2026 pun menjadi gambaran bahwa ekspansi pasar dan bertambahnya permintaan belum tentu langsung menghasilkan peningkatan laba ketika tekanan biaya dan kondisi makroekonomi masih membayangi kinerja perusahaan.
Editor: Arif Ardliyanto