Aktivitas Fisik Remaja Rendah, Program Sekolah Sehat Sasar 11.000 Siswa
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kebiasaan hidup kurang sehat di kalangan remaja menjadi perhatian serius. Mulai dari minimnya aktivitas fisik hingga pola konsumsi makanan yang tidak seimbang, berbagai faktor tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan anak usia sekolah.
Kondisi ini mendorong perlunya pembiasaan pola hidup sehat sejak dini. Sekolah pun dinilai memiliki peran strategis karena menjadi tempat siswa menghabiskan sebagian besar waktu untuk belajar dan beraktivitas.
Salah satu upaya yang dilakukan melalui peluncuran Program Sekolah Sehat HiLo. Program kolaboratif ini melibatkan siswa, guru, orang tua, hingga pengelola kantin untuk membangun lingkungan pendidikan yang mendukung kebiasaan hidup sehat.
Perhatian terhadap kesehatan remaja bukan tanpa alasan. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi gizi lebih, termasuk kelebihan berat badan dan obesitas, mencapai 16,2 persen pada kelompok usia 13–15 tahun. Sementara pada kelompok usia 16–18 tahun angkanya mencapai 12,1 persen.
Artinya, sekitar satu dari enam remaja usia SMP dan satu dari delapan remaja usia SMA mengalami kelebihan berat badan.
Persoalan lain terlihat dari aktivitas fisik yang masih rendah. SKI 2023 mencatat sebanyak 58 persen remaja usia 10–14 tahun dan 50,4 persen kelompok usia 15–19 tahun memiliki aktivitas fisik yang kurang.
Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan anak dan remaja melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat rata-rata minimal 60 menit setiap hari.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa tantangan kesehatan remaja tidak cukup diatasi melalui edukasi tentang makanan bergizi. Diperlukan perubahan kebiasaan yang mencakup aktivitas fisik, pola konsumsi, serta lingkungan yang mendukung perilaku hidup sehat.
Melalui Program Sekolah Sehat HiLo, sebanyak 55 sekolah di 11 kota di Indonesia ditargetkan terlibat selama tiga bulan. Program tersebut diproyeksikan menjangkau sekitar 11.000 siswa.
Di Surabaya, terdapat enam sekolah yang menjadi bagian dari pelaksanaan program, yakni SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, SMP Negeri 17 Surabaya, SMP Negeri 6 Surabaya, SMP Labschool Unesa 2, SMP Labschool Unesa 3, dan SMP Tamiriyah.
Pelaksanaannya berfokus pada empat aspek utama. Pertama, mendorong siswa lebih aktif bergerak dalam keseharian. Kedua, memperkuat keterlibatan guru sebagai penggerak kebiasaan hidup sehat.
Ketiga, meningkatkan pemahaman siswa mengenai pola makan dan gizi seimbang. Keempat, mengajak seluruh unsur sekolah, termasuk orang tua dan pengelola kantin, terlibat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan sehat. Sebab, perilaku anak tidak hanya dipengaruhi materi yang diterima di kelas, tetapi juga contoh dan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Kantin sekolah, misalnya, memiliki pengaruh terhadap pilihan makanan dan minuman yang dikonsumsi siswa. Sementara guru dan orang tua dapat memberikan teladan melalui kebiasaan sehari-hari, termasuk menjaga pola makan dan rutin melakukan aktivitas fisik.
Area Marketing Manager Nutrifood Jawa Timur, Dr. Andre Setiawan Omarhadi, S.T.P., M.M., mengatakan pembentukan budaya hidup sehat membutuhkan keterlibatan seluruh ekosistem sekolah.
Menurut dia, pendekatan yang dilakukan tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga pihak-pihak yang memiliki peran dalam membentuk kebiasaan mereka.
"Kami ingin melangkah lebih jauh dengan melibatkan seluruh ekosistem sekolah, mulai dari siswa, guru, orang tua, hingga mitra kantin, agar budaya hidup sehat dapat tumbuh secara berkelanjutan," ujarnya.
Dukungan terhadap upaya tersebut juga disampaikan perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Bambang Hariyanto, S.T.P. Dia menilai kesehatan anak usia sekolah merupakan investasi penting bagi masa depan bangsa.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk memperkuat langkah promotif dan preventif, sekaligus meningkatkan kesadaran warga sekolah dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
"Kesehatan anak usia sekolah merupakan investasi penting bagi masa depan bangsa. Kehadiran program ini diharapkan dapat membuat perilaku hidup bersih dan sehat semakin terbiasa diterapkan di lingkungan sekolah," tuturnya.
Sementara itu, perwakilan Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Heri Setiawan, menekankan pentingnya menanamkan pemahaman mengenai gizi seimbang dan aktivitas fisik sejak usia remaja.
Menurutnya, pengetahuan tentang kesehatan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Dengan begitu, siswa tidak hanya memahami pentingnya hidup sehat melalui pembelajaran, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pandangan serupa disampaikan perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Satiah. Dia menilai kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekolah turut berperan dalam membentuk perilaku hidup sehat.
Kesadaran menjaga kesehatan, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Sekolah diharapkan menjadi ruang yang mendukung proses belajar sekaligus membiasakan siswa menjaga kebersihan lingkungan.
Sebagai bagian dari peluncuran program, para pemangku kepentingan juga menyampaikan komitmen bersama melalui Papan Komitmen Sekolah Sehat.
Komitmen tersebut menjadi simbol keterlibatan berbagai pihak dalam membangun lingkungan pendidikan yang lebih sehat. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada konsistensi penerapan kebiasaan baik dalam aktivitas sekolah sehari-hari.
Pada akhirnya, membentuk generasi sehat bukan hanya persoalan mengatur makanan atau menyediakan waktu olahraga. Lebih dari itu, diperlukan lingkungan yang mampu mendorong anak menjadikan perilaku sehat sebagai bagian dari rutinitas.
Melalui keterlibatan siswa, guru, orang tua, dan pengelola kantin, sekolah memiliki kesempatan untuk menanamkan kebiasaan tersebut sejak dini. Dengan demikian, pendidikan kesehatan tidak berhenti sebagai teori di ruang kelas, tetapi tumbuh menjadi perilaku yang terbawa hingga dewasa.
Editor: Arif Ardliyanto