Ubaya Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Dorong Kontribusi Riset dan Inovasi Berdampak

Ali Masduki
Pengukuhan tiga guru besar di Gedung Perpustakaan lantai 5, Kampus Ubaya Tenggilis. Foto/Humas Ubaya

Masing-masing guru besar menyampaikan orasi ilmiah yang mencerminkan kontribusi mereka di bidangnya.

1. Prof. The Jaya Suteja: Potensi 3D Printing di Bidang Kesehatan

Prof. Jaya, guru besar bidang Ilmu Teknik Mesin, memaparkan penelitiannya tentang “Potensi Implementasi 3D Printing di Bidang Kesehatan”. 

Ia menjelaskan bahwa teknologi 3D printing dapat mendukung tujuan ketiga Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu menjamin kehidupan sehat dan kesejahteraan bagi semua usia.

“3D printing bekerja dengan menambahkan dan menyambung material lapisan demi lapisan menggunakan pelelehan, penyinaran, atau penyemprotan. Teknologi ini berpotensi mengurangi biaya produksi alat kesehatan, obat, dan makanan sehat yang tidak bisa diproduksi massal,” jelas Prof. Jaya, lulusan Queensland University of Technology, Australia.

2. Prof. Aluisius Hery Pratono: Cognitive Bias dalam Ekonomi Digital

Prof. Hery, guru besar bidang Ilmu Bisnis Digital, membahas “Cognitive Bias dalam Ekonomi Digital: Sebuah Refleksi”. Ia memprediksi bahwa digitalisasi akan menjadi hal biasa di masa depan.

“Ekonomi digital sangat kuat dan bisa kita alokasikan melalui sumber daya untuk mewujudkan konsumsi di masa depan. Namun, popularitas digital mungkin tidak bertahan lama karena perkembangannya yang sangat cepat,” ujar Prof. Hery, lulusan Universiti Utara Malaysia.

3. Prof. Dini Kesuma: Inovasi Kimia Medisinal untuk Pengobatan Kanker Payudara

Prof. Dini, guru besar bidang Ilmu Pengembangan Obat, menyoroti pentingnya inovasi dalam kimia medisinal untuk pengobatan kanker payudara. 

“Kimia medisinal berperan sebagai jembatan antara ilmu kimia dan farmasi, meningkatkan efikasi obat, dan mengurangi efek samping,” jelasnya.

Ia mengembangkan senyawa turunan Phenylthiourea, yaitu N-benzoyl-N’-phenylthiourea (BPTU), sebagai harapan baru dalam pengobatan kanker payudara. 

“Sebagai seorang wanita, istri, dan ibu, saya tergerak untuk mengembangkan obat kemoterapi yang lebih potensial dengan efek samping minimal,” ujar Prof. Dini.

Editor : Ali Masduki

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network