Makna Kemenangan di Hari Lebaran 'Sebuah Renungan'

Arif Ardliyanto
Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag.. Foto iNEWSSURABAYA/tangkap layar

Setelah menikmati takjil dan menunaikan shalat Maghrib berjamaah, kami duduk melingkar di sekitar meja makan. Dalam suasana yang akrab dan penuh khidmat, saya bersebelahan dengan sang Guru. Saya merasa sedikit sungkan mengambil lauk di hadapannya. Jika bukan karena dorongan teman-teman, saya lebih memilih untuk makan dengan bebas tanpa merasa terbatas.

Kami menikmati hidangan dengan ritme yang perlahan, diselingi obrolan yang mengalir dari hal-hal ringan hingga diskusi mendalam. Seperti biasa, topik pembicaraan bisa berbelok ke mana saja. Kali ini, setelah menyampaikan pendapat mengenai sebuah kajian sejarah, salah seorang di ujung meja berkata, "Sejarah ditulis oleh para pemenang."

Ungkapan itu terdengar familiar bagi semua yang hadir. Namun, respons sang Guru justru mengejutkan. Dengan suara berat dan penuh makna, ia menimpali, "Pemenang itu tergantung definisi. Siapa pemenang dan siapa pecundang? Dunia kita semakin kompleks, sehingga sulit menentukan siapa sebenarnya yang berhak disebut pemenang."

Ia mengulang kalimat itu sekali lagi, "Pemenang itu tergantung definisi."

Saya merenungkan kata-kata tersebut dalam perspektif saya sendiri. Pikiran saya langsung melayang pada kalimat yang sering kita dengar saat Lebaran tiba: "Lebaran sebagai hari kemenangan." Pertanyaannya, siapa sebenarnya pemenang di hari "kemenangan" itu?

Puasa Ramadan sejatinya adalah sebuah pelatihan. Layaknya sebuah kamp latihan sebelum pertandingan sesungguhnya, puasa menggembleng kita agar siap menghadapi kehidupan dengan kualitas diri yang lebih baik. Menjalankan seluruh aspek puasa bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari perjuangan sesungguhnya dalam kehidupan nyata.

Puasa mengajarkan kita arti empati dengan merasakan haus dan lapar, sehingga tumbuh rasa kasih sayang kepada mereka yang kurang beruntung. Inilah esensi dari zakat fitrah, sebagai bentuk kepedulian kepada sesama. Lebih dari itu, puasa juga melatih ketahanan diri, disiplin, dan kontrol terhadap hawa nafsu. Dengan menahan godaan dan mengikuti aturan yang ketat, kita diharapkan menjadi pribadi yang lebih kuat, penuh komitmen, serta memiliki pengendalian diri yang lebih baik.

Namun, apakah kita benar-benar menerapkan hasil latihan ini dalam kehidupan sehari-hari? Ataukah semua kualitas tersebut hilang begitu saja setelah gema takbir berkumandang?

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network