SURABAYA, iNewsSurabaya.id – PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) menjalin kemitraan strategis dengan Fairatmos, perusahaan teknologi iklim terkemuka yang fokus pada pengembangan proyek karbon dan solusi dekarbonisasi berbasis sains serta teknologi mutakhir.
Kerja sama ini diawali dengan penyusunan studi pra-kelayakan (pre-feasibility study) guna mengembangkan proyek karbon di kawasan industri milik SIER. Fokus utamanya mencakup pengelolaan limbah cair industri, peningkatan efisiensi energi, pemanfaatan teknologi rendah emisi, serta inisiatif reforestasi.
Proyek ini diharapkan dapat menghasilkan kredit karbon bersertifikat yang nantinya bisa diajukan ke Sistem Registri Nasional (SRN) maupun skema internasional seperti Gold Standard.
Penandatanganan kerja sama dilakukan di Jakarta, disaksikan langsung oleh Direktur Utama PT SIER Didik Prasetiyono, didampingi Direktur Operasi Lussi Erniawati. Dari pihak Fairatmos, hadir CEO & Founder Natalia Rialucky Marsudi dan Head of New Business Cecilia Natasya.
Menurut Didik Prasetiyono, kolaborasi ini memiliki nilai strategis tinggi. Selain mendukung penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), proyek ini juga membuka peluang pendapatan baru melalui perdagangan karbon serta meningkatkan daya saing SIER dan tenant di tengah tuntutan keberlanjutan global.
“Kami menyadari masa depan industri bergantung pada kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim. Kerja sama ini adalah langkah konkret kami untuk menjawab tantangan tersebut secara terukur dan kolaboratif,” ujar Didik, Jumat (13/6/2025).
Sebagai mahasiswa doktoral Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Universitas Airlangga, Didik menambahkan bahwa kerja sama ini juga mempersiapkan perusahaan menghadapi regulasi masa depan, seperti penerapan pajak karbon dan sistem perdagangan emisi.
Fairatmos akan mendukung proyek ini melalui penyediaan teknologi digital untuk proses pengukuran, pemantauan, pelaporan, dan verifikasi (MRV) karbon. Langkah ini dilakukan guna menjamin transparansi dan akuntabilitas pada setiap tahap pelaksanaan.
“Komitmen kami adalah memastikan keterbukaan dan kepatuhan terhadap standar nasional maupun internasional dalam seluruh proses pengembangan proyek karbon,” tegas Didik.
Sementara itu, Natalia Rialucky Marsudi, CEO Fairatmos, menyampaikan bahwa kawasan industri seperti SIER memiliki potensi besar dalam menurunkan emisi karbon nasional.
“Kami siap mendampingi SIER dengan pendekatan berbasis data dan teknologi, serta pengalaman dalam proyek karbon lintas sektor,” kata Natalia.
Fairatmos telah terlibat dalam berbagai proyek karbon di Indonesia dan Asia Tenggara. Termasuk pengelolaan limbah industri di Pasuruan, pengolahan sampah di Ponorogo, pengembangan energi terbarukan, serta reforestasi kawasan mangrove dan gambut.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
