Pelatihan ini dirancang ramah pemula. Peserta tidak dituntut menguasai software kompleks. Bahkan, beberapa sesi latihan menggunakan media sederhana seperti kertas warna, papan tulis, hingga simulasi tanpa komputer.
Menurut Lukman Hakim, Kepala Lembaga Digitalisasi Teknologi Informasi (LDTI) UM Surabaya, pelatihan ini akan rutin digelar tiap semester dan diselaraskan dengan kalender akademik sekolah.
“Ini bagian dari langkah bersama untuk memperkuat transformasi digital sejak pendidikan dasar,” kata Lukman.
Salah satu peserta, Ahmad Nur Soleh, menciptakan aplikasi berbasis AI yang membantu siswa membedakan antara makanan cepat saji dan makanan alami. Tujuannya jelas: mendukung pemahaman gizi secara interaktif.
“Kami merasa tertantang, tapi juga sangat terbantu. Pelatihan ini membuka mata kami bahwa teknologi bisa menjadi teman dekat dalam mengajar,” ujar Ahmad.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari program nasional Kemendikbudristek yang fokus pada penguatan literasi digital di lingkungan pendidikan dasar. Melalui metode belajar menyenangkan dan berbasis teknologi, pelatihan ini diharapkan mampu menginspirasi guru-guru di seluruh Indonesia untuk tidak takut pada teknologi.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
