Asap hitam tebal membumbung tinggi, memicu kepanikan warga. Puluhan santri langsung dievakuasi ke tempat aman. Menurut salah satu pengurus pondok, Ustaz Zainil, jika terlambat sedikit saja, bangunan pesantren bisa saja ikut terbakar.
“Api sangat besar dan angin juga kencang. Kami fokus mengevakuasi santri dan memastikan api tidak menjalar ke gedung sekolah,” jelasnya.
Dua armada pemadam kebakaran dari Pos Wirosari diterjunkan ke lokasi. Proses pemadaman berlangsung sekitar dua jam, dibantu oleh warga dan para santri yang berjibaku menggunakan peralatan seadanya, mulai dari ember hingga selang air.
Bentuk kepedulian juga datang dari pihak Perhutani KPH Wirosari. Asper Perhutani, Sudaryanto atau yang akrab disapa Pak D, datang langsung ke lokasi untuk memberikan dukungan moral dan materi.
“Kami turut prihatin atas musibah ini. Dalam waktu dekat, kami akan menyalurkan bantuan berupa kayu untuk membantu pembangunan kembali rumah korban,” ungkapnya.
Kayu tersebut akan digunakan sebagai bahan utama untuk rangka atap dan dinding rumah yang hangus terbakar.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya menjaga instalasi listrik di rumah agar tetap aman, terutama di daerah padat penduduk. Kewaspadaan serta koordinasi cepat antara warga, santri, dan petugas pemadam terbukti mampu mencegah bencana yang lebih besar.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
