SURABAYA, iNewsSurabaya.id — Kapolda Jawa Timur (Jatim) Irjen Pol Nanang Avianto menegaskan pentingnya perencanaan dan pengawasan ketat dalam setiap pembangunan pondok pesantren (ponpes).
Hal ini disampaikan menyusul tragedi robohnya bangunan musala Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo. Menurut Nanang, masih banyak bangunan pondok di wilayah Jatim yang belum memenuhi standar konstruksi. Kondisi tersebut, katanya, sangat memprihatinkan karena berpotensi membahayakan keselamatan para santri.
“Masih banyak pondok di Jatim yang belum memenuhi standar konstruksi. Ini sangat memprihatinkan. Keselamatan santri harus menjadi prioritas utama,” tegas Nanang di Surabaya, Rabu (8/10/2025).
Sebagai langkah lanjutan, kepolisian akan melakukan pendataan dan pemeriksaan ulang seluruh bangunan pondok pesantren di Jatim. Polda Jatim juga akan bekerja sama dengan pemerintah daerah, Satpol PP, dan tim ahli untuk melakukan risk assessment terhadap kelayakan bangunan.
“Jika ditemukan bangunan yang tidak memenuhi standar, polisi tak segan meminta penutupan sementara hingga perbaikan dilakukan,” ujarnya.
Selain aspek pencegahan, Nanang juga menekankan pentingnya penegakan hukum secara tegas dan transparan. Ia memastikan setiap pihak yang terbukti lalai atau bertanggung jawab atas insiden di Ponpes Al-Khoziny akan dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Indonesia adalah negara hukum. Siapapun yang lalai atau bertanggung jawab atas kejadian ini akan kami tindak sesuai prosedur,” ujar Nanang.
Berdasarkan data kepolisian, total korban dalam tragedi Ponpes Al Khoziny mencapai 171 orang. Rinciannya, 67 kantong jenazah ditemukan, 34 diantaranya sudah teridentifikasi, 104 orang selamat dan kini dalam perawatan serta pemulihan.
“Seluruh jenazah yang telah teridentifikasi telah diserahkan kepada keluarga masing-masing dan dimakamkan dengan pendampingan penuh dari pihak kepolisian,” ujar Nanang.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
