SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Beberapa tahun terakhir, istilah “Birthday Check-Up” atau pemeriksaan kesehatan setiap ulang tahun mulai ramai dibicarakan di berbagai kalangan. Ide ini sederhana tapi kuat: menjadikan momen ulang tahun bukan sekadar pesta, tetapi juga ajang refleksi diri—khususnya tentang kesehatan.
Alih-alih hanya meniup lilin dan memotong kue, mengapa tidak sekaligus mengecek tekanan darah, kadar gula, atau kesehatan jantung? Karena sejatinya, hadiah terbaik di hari ulang tahun adalah tubuh yang sehat untuk melangkah ke tahun berikutnya.
Namun, di balik gagasan yang menarik ini, muncul pertanyaan penting: apakah masyarakat Indonesia sudah siap menjadikan Birthday Check-Up sebagai kebiasaan baru?
Budaya kita selama ini masih sangat berorientasi pada pengobatan. Banyak orang baru datang ke rumah sakit ketika sudah sakit, bukan untuk mencegah agar tetap sehat. Padahal, perubahan pola pikir dari curative (menyembuhkan) ke preventive (menjaga) adalah kunci menuju masyarakat yang lebih sehat.
Untuk mengubah mindset ini, pendidikan kesehatan publik dan literasi digital berperan besar. Sekolah, kampus, dan media massa bisa menjadi jembatan dalam membentuk kebiasaan baru ini. Misalnya, melalui kampanye ringan di media sosial atau program edukatif di lingkungan kampus yang mengajak civitas akademika memeriksakan kesehatan setiap ulang tahun.
Secara konsep, Birthday Check-Up sejalan dengan visi pemerintah dalam memperluas layanan kesehatan preventif. Salah satunya melalui Program Quick Win Presiden RI: Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG), yang berupaya menggeser paradigma masyarakat dari “berobat setelah sakit” menjadi “menjaga agar tidak sakit”.
Namun, program semacam ini harus benar-benar dikawal efektivitasnya. Pertanyaannya: apakah fasilitas kesehatan di daerah sudah siap menampung peningkatan jumlah pemeriksaan? Bagaimana data hasil pemeriksaan dikelola agar bisa dimanfaatkan untuk menyusun kebijakan kesehatan nasional yang lebih akurat?
Selain itu, untuk masyarakat dengan penghasilan terbatas, biaya check-up tahunan bisa menjadi tantangan. Maka, subsidi, asuransi, atau insentif pajak kesehatan bisa menjadi solusi jika dirancang dengan matang tanpa membebani sistem nasional.
Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung perubahan perilaku ini. Misalnya, kampus seperti Untag Surabaya bisa menjadi mitra riset yang menilai efektivitas sosial dan ekonomi dari konsep Birthday Check-Up. Selain menghasilkan penelitian berbasis data, kampus juga dapat menjadi contoh nyata dalam penerapan budaya hidup sehat di lingkungan akademik.
Dengan kolaborasi antara peneliti, tenaga medis, dan pembuat kebijakan, lahirlah ekosistem kesehatan yang lebih cerdas, inklusif, dan berkelanjutan.
Era digital membuka peluang besar untuk memperkuat konsep Birthday Check-Up. Bayangkan jika setiap orang memiliki profil kesehatan digital yang otomatis memperingatkan jadwal check-up tahunan, menyimpan hasil laboratorium, dan memberikan rekomendasi gaya hidup sehat.
Dengan teknologi seperti big data dan AI, sistem kesehatan bisa menjadi lebih personal dan prediktif. Pemeriksaan tahunan tidak lagi sekadar formalitas, melainkan bagian dari sistem smart healthcare yang benar-benar membantu masyarakat hidup lebih sehat dan produktif.
Pada akhirnya, Birthday Check-Up bukan hanya tentang pemeriksaan medis, tetapi tentang cara pandang baru terhadap hidup. Momen ulang tahun menjadi refleksi: apakah tubuh dan pikiran kita masih seimbang? Apakah kita sudah cukup peduli menjaga diri untuk masa depan?
Mungkin sudah waktunya kita menambahkan satu tradisi baru di setiap perayaan ulang tahun: memeriksakan kesehatan sebagai bentuk rasa syukur. Karena sejatinya, usia yang bertambah bukan sekadar angka, tetapi juga kesempatan untuk hidup lebih baik, lebih sadar, dan lebih sehat.
Oleh:
Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
