Menurutnya, sikap itu menjadi bukti nyata bahwa Gus Dur memegang teguh prinsip kemanusiaan di atas kepentingan pribadi atau politik. “Itulah Gus Dur, seorang pemimpin yang lebih memilih kehilangan kekuasaan daripada mengorbankan rakyatnya. Itulah mengapa saya katakan, beliau adalah tetesan darah pahlawan sejati,” ujarnya.
Ia menegaskan, gelar Pahlawan Nasional hanyalah simbol formal dari perjuangan besar yang telah diakui rakyat sejak lama. “Bagi rakyat, Gus Dur sudah lama menjadi pahlawan mereka, pahlawan yang hidup dalam nilai, bukan hanya dalam nama,” pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
