SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Kunjungan ke dokter gigi kerap diwarnai bayangan jarum suntik dan suara alat yang menyeramkan. Namun, dalam tiga menit pertama pasien masuk ruang pemeriksaan, dokter gigi sejatinya tengah membangun fondasi kepercayaan yang menentukan apakah pasien merasa aman atau justru semakin cemas menjalani perawatan.
Dalam dunia kedokteran gigi, kesan pertama terbentuk dalam hitungan menit. Di sinilah dokter gigi tidak hanya berperan sebagai tenaga medis, tetapi juga pengelola rasa takut pasien. Kombinasi komunikasi profesional, pendekatan interpersonal, dan sentuhan ringan (playful approach) menjadi kunci membuka pintu kepercayaan.
Apa yang Terjadi dalam Tiga Menit Pertama?
Seperti saat bertemu orang baru, manusia hanya butuh beberapa detik untuk menilai apakah seseorang bisa dipercaya. Hal yang sama berlaku di ruang praktik, pasien memproses banyak hal sekaligus seperti cara dokter menyapa, nada suara, ekspresi wajah, hingga suasana ruangan.
Dominique Keisha Annabel, mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, mencatat bahwa momen ini terasa lebih krusial saat dokter menghadapi pasien anak yang rentan takut atau pasien dewasa dengan dental anxiety, rasa cemas terkait perawatan gigi.
"Tiga menit pertama bukan sekadar basa-basi tanpa tujuan. Ini momen emas untuk mencairkan suasana dan membangun kepercayaan pasien," tulis Dominique.
Pendekatan Ringan, Tetap Profesional
Istilah playful approach kerap disalahartikan sebagai bercanda berlebihan yang berlawanan dengan profesionalisme. Padahal, dalam konteks klinis, pendekatan ini berarti menghadirkan suasana ramah tanpa mengurangi otoritas hangat, tetapi tidak berlebihan.
Bentuknya bisa berupa sapaan dengan senyum ramah, humor ringan, kelembutan saat mengakui kecemasan pasien, hingga cara menarik perhatian anak dengan cerita atau boneka kecil. Kemampuan menyederhanakan istilah medis juga penting agar pasien merasa "dilihat" sebagai manusia, bukan sekadar nomor antrean.
Tiga Langkah Praktis Dokter Gigi
1. Sapaan yang Membangun Rasa Aman
Senyum hangat, kontak mata, dan perkenalan singkat memberi sinyal bahwa pasien berada di tangan yang tepat. Sapaan natural dan personal membuat pasien merasa dihargai sebagai individu.
2. Percakapan Kecil yang Menenangkan
Small talk bukan basa-basi kosong, melainkan cara mengalihkan fokus dari kecemasan. Kalimat sederhana seperti, "Lagi sibuk apa belakangan ini?" atau "Datang sendiri atau ditemani?" mampu mencairkan ketegangan.
3. Penjelasan Prosedur dengan Lembut
Setelah suasana lebih santai, dokter menyeimbangkan empati dan profesionalitas dengan menjelaskan prosedur secara jelas dan tidak mengintimidasi. Contohnya: "Sebentar lagi giginya akan saya bersihkan, ya. Kalau merasa ngilu, angkat tangan kirinya."
Kalimat sederhana ini memberi keyakinan bahwa dokter siap mendengarkan keluhan atau rasa sakit yang dirasakan pasien.
Manfaat Tiga Menit yang Efektif
Ketika tiga menit pertama dimanfaatkan dengan baik, pasien yang datang dengan cemas bisa membuka diri lebih santai. Anak yang awalnya enggan terpisah dari orang tua mulai berinteraksi. Pasien dewasa yang kaku perlahan mau bercerita.
Kepercayaan yang terbentuk membuat prosedur berjalan mulus, edukasi lebih mudah tersampaikan, dan komunikasi dua arah menjadi lebih efektif. Manfaat konkretnya meliputi:
- Menurunnya kecemasan dan meningkatnya kepercayaan pasien
- Perawatan menjadi lebih efisien
- Terbentuknya hubungan jangka panjang antara dokter dan pasien
- Meningkatnya reputasi profesional
Lebih dari sekadar formalitas, tiga menit pertama adalah perpaduan empati, ilmu komunikasi, dan pendekatan yang membuat pasien merasa aman serta dihargai.
"Membangun kepercayaan pasien bukanlah proses rumit. Kunci sukses dokter gigi tidak dimulai dari teknik kompleks atau peralatan canggih, tetapi kemampuan memberikan pengalaman kesehatan terbaik dimulai sejak kesan pertama," tutup Dominique.
Penulis
Dominique Keisha Annabel (Mahasiswa Kedokteran Gigi UNAIR)
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
