Kecerdasan Buatan dan Jalan Alternatif yang Terbuka
Perkembangan kecerdasan buatan sering diasosiasikan dengan chip paling kecil dan paling mahal. Padahal, ketika jalur tersebut tidak tersedia, inovasi tidak berhenti. Para pengembang justru mulai mencari pendekatan lain—merancang sistem yang lebih modular, menggabungkan berbagai jenis prosesor, atau mengoptimalkan perangkat lunak agar lebih efisien.
Pendekatan ini perlahan menggeser paradigma lama. AI tidak lagi semata-mata bergantung pada kekuatan perangkat keras, tetapi pada kecerdasan desain sistem secara keseluruhan. Dalam jangka panjang, strategi ini justru berpotensi membuat teknologi AI lebih adaptif, terjangkau, dan inklusif.
Di era digital, istilah negara adidaya tidak lagi ditentukan oleh kekuatan militer semata. Ia bergeser ke kemampuan menguasai teknologi inti—kemampuan merancang mesin, memahami sistem kompleks, dan membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan.
Negara yang menguasai teknologi dasar memiliki keunggulan bukan karena mendominasi pihak lain, melainkan karena mampu menentukan arah pengembangan, menetapkan standar, dan beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan. Di sinilah perbedaan mendasar antara pengguna teknologi dan pencipta teknologi.
Kisah ini membawa pesan penting bagi dunia pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Penguasaan teknologi tidak cukup hanya dengan mengoperasikan alat tercanggih. Yang jauh lebih bernilai adalah pemahaman konsep, keberanian bereksperimen, dan kemampuan merancang solusi dari prinsip dasar.
Sejarah membuktikan, banyak lompatan teknologi besar justru lahir dari keterbatasan. Ketika satu pintu tertutup, rekayasa akan mencari jalannya sendiri. Mesin pembuat chip tercanggih hari ini mungkin menjadi standar utama, tetapi bukan satu-satunya masa depan.
Dalam dunia teknologi, keterbatasan bukanlah akhir dari inovasi. Ia sering kali menjadi awal dari lompatan berikutnya—lebih mandiri, lebih adaptif, dan lebih berkelanjutan.
Penulis:
Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
