AKBP Wahyudin Latif menegaskan bahwa kenaikan pangkat bukanlah sesuatu yang otomatis. Menurutnya, setiap pangkat yang disandang adalah hasil evaluasi panjang atas kinerja, disiplin, dan dedikasi anggota.
“Kenaikan pangkat ini bukan hadiah, bukan juga otomatis. Ini adalah raport dari kerja keras, loyalitas, dan tanggung jawab anggota dalam menjalankan tugas,” tegasnya.
Ia berharap, momentum ini menjadi pelecut semangat bagi seluruh personel untuk terus meningkatkan profesionalisme dan integritas dalam bertugas melayani masyarakat.
Tangis Haru dan Rasa Syukur
Di sisi lain, AKP Vita mengaku tidak mampu menyembunyikan rasa syukurnya atas kepercayaan yang diberikan pimpinan.
“Alhamdulillah, ini semua atas izin Allah. Terima kasih kepada Bapak Kapolres dan seluruh pimpinan yang telah membimbing saya selama ini,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, bagi enam anggota yang memasuki masa pensiun, iringan becak kayuh menjadi penutup perjalanan dinas yang tak terlupakan. Beberapa di antaranya terlihat menahan haru, melambaikan tangan kepada rekan-rekan yang masih aktif berdinas.
Lebih dari Sekadar Upacara
Tradisi mengantar polisi purna bakti dengan becak bukan kali pertama dilakukan di Polres Probolinggo. Namun, kehadiran Kapolres yang turun langsung mengayuh becak memberi makna lebih dalam: jabatan boleh berbeda, tapi rasa hormat tetap sama.
Di tengah citra kepolisian yang terus berbenah, momen sederhana namun penuh empati ini menjadi pengingat bahwa di balik seragam dan pangkat, ada sisi kemanusiaan yang tetap dijaga.
Polres Probolinggo hari itu bukan hanya mencatat kenaikan pangkat dan purna tugas, tetapi juga menghadirkan pelajaran tentang pengabdian, penghormatan, dan kebersamaan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
