BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Stigma kelam kerap melekat pada narapidana. Mereka sering dipersepsikan sebagai individu tanpa keterampilan dan masa depan. Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di balik tembok tinggi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi.
Di area pembinaan lapas, deretan anggrek tumbuh rapi, dirawat dengan penuh ketelatenan oleh warga binaan. Melalui program pelatihan budidaya anggrek, Lapas Banyuwangi membuka ruang baru bagi para narapidana untuk belajar, bertumbuh, dan menata harapan hidup yang lebih baik setelah bebas nanti.
Program ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Lapas Banyuwangi dalam memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan, dengan menitikberatkan pada keterampilan bernilai ekonomis dan ramah lingkungan. Tak sekadar bertani, kegiatan ini juga diarahkan untuk menumbuhkan jiwa wirausaha sejak dini.
Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menjelaskan bahwa budidaya anggrek dipilih karena memiliki prospek pasar yang menjanjikan dan relatif mudah dikembangkan.
“Budidaya anggrek bukan hanya soal keterampilan teknis. Di dalamnya ada proses pembinaan mental, kedisiplinan, serta tanggung jawab melalui aktivitas yang positif dan produktif,” ujar Wayan.
Ia menambahkan, sektor unggulan yang dikembangkan meliputi pembibitan anggrek dan berbagai tanaman hias lainnya. Warga binaan dibekali pengetahuan mulai dari perawatan, pembibitan, hingga pengelolaan tanaman agar memiliki nilai jual tinggi.
“Kami ingin mereka benar-benar memahami bahwa tanaman yang dirawat dengan baik bisa menjadi sumber penghasilan yang layak,” tambahnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
