SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Bagi sebagian mahasiswa di Surabaya, bangku kuliah bukan hanya ruang belajar, tetapi juga arena bertahan hidup. Setiap awal semester sering kali bukan soal memilih mata kuliah, melainkan menghitung ulang kemampuan orang tua membayar UKT, SPP, dan biaya hidup yang terus merangkak naik.
Di titik inilah, kebijakan percepatan beasiswa bagi mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS) yang digagas Pemerintah Kota Surabaya menemukan relevansi sosialnya.
Pendidikan tinggi selama ini kerap dibicarakan dalam bahasa ideal: prestasi, daya saing, dan masa depan bangsa. Namun di level mahasiswa, realitasnya jauh lebih sederhana sekaligus getir—soal cukup atau tidaknya biaya untuk terus bertahan. Banyak mahasiswa berprestasi terpaksa menunda mimpi, bahkan berhenti kuliah, bukan karena kurang cerdas, tetapi karena keterbatasan ekonomi. Kebijakan beasiswa untuk mahasiswa PTS hadir sebagai jawaban konkret atas persoalan itu.
Di kota besar seperti Surabaya, perguruan tinggi swasta bukan pilihan alternatif, melainkan tulang punggung akses pendidikan tinggi. Ribuan mahasiswa yang tidak tertampung di perguruan tinggi negeri menemukan harapan di PTS. Mereka datang dari berbagai latar belakang—anak buruh, pedagang kecil, pekerja informal, hingga generasi pertama di keluarganya yang berhasil menjejakkan kaki di dunia kampus.
Namun selama bertahun-tahun, kebijakan bantuan pendidikan cenderung lebih berpihak pada mahasiswa perguruan tinggi negeri. Akibatnya, muncul kesenjangan akses yang senyap tetapi nyata. Mahasiswa PTS kerap berada di wilayah abu-abu: sama-sama warga negara, sama-sama berjuang menuntut ilmu, tetapi tidak selalu mendapat perlakuan kebijakan yang setara.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
