Tak kalah penting, Bella juga menaruh perhatian pada persoalan klasik dunia impor, yakni lambannya pengeluaran barang dan tingginya biaya logistik. Ia menilai efisiensi menjadi kunci utama agar importir Jawa Timur mampu bersaing.
“Kami akan membentuk tim khusus untuk memantau hambatan di lapangan dan mendorong pemanfaatan teknologi, seperti Electronic Data Interchange (EDI), agar proses lebih cepat dan transparan,” jelasnya.
Di bawah kepemimpinannya, GINSI Jatim juga akan memperkuat hubungan strategis dengan berbagai instansi, mulai dari Bea Cukai, Kementerian Perdagangan, hingga Kementerian Perindustrian. Bella menekankan pentingnya komunikasi dua arah agar kebijakan yang lahir benar-benar selaras dengan kondisi di lapangan.
“Kami ingin ada forum rutin. Importir bisa menyampaikan aspirasi secara langsung, dan pemerintah pun bisa menjelaskan kebijakan dengan lebih terbuka,” tuturnya.
Selain itu, pendampingan perizinan impor menjadi salah satu prioritas. Bella menilai birokrasi yang berbelit sering kali menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha. “Kami akan membantu anggota dalam proses perizinan dan berkoordinasi dengan instansi terkait agar lebih sederhana dan cepat,” katanya.
Aspek kepatuhan juga tak luput dari perhatian. Bella menegaskan bahwa pelaporan impor bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian dari tata kelola usaha yang sehat dan berkelanjutan. Untuk mendukung hal ini, GINSI Jatim akan menyediakan pelatihan khusus, template laporan, hingga membentuk tim audit internal.
“Kami ingin anggota patuh, tertib, dan terlindungi dari potensi sanksi akibat kesalahan administrasi,” imbuhnya.
Arah kepemimpinan baru ini disambut positif para peserta Musda. Mereka berharap GINSI Jatim di bawah kepemimpinan Hana Belladina mampu menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus rumah bersama bagi para importir dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.
Dengan lima program prioritas yang telah disusun, Bella optimistis GINSI Jawa Timur dapat berkontribusi nyata menciptakan iklim usaha impor yang lebih tertib, efisien, dan berdaya saing dalam lima tahun mendatang.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
