SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di tengah derasnya arus digital dan kebiasaan membaca yang kian tergerus layar gawai, Surabaya menghadirkan sebuah kabar menggembirakan bagi pecinta buku. Kota Pahlawan dipilih menjadi kota pembuka Big Bad Wolf Books (BBW) Indonesia 2026, pameran buku internasional terbesar di dunia yang dikenal sebagai gerakan literasi lintas generasi.
Momentum ini terasa istimewa karena bertepatan dengan satu dekade perjalanan BBW di Indonesia. Selama 10 tahun terakhir, BBW bukan hanya sekadar bazar buku, tetapi telah tumbuh menjadi ruang perjumpaan antara buku, keluarga, komunitas, dan generasi muda yang menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
BBW Surabaya 2026 akan digelar di Convention Hall Tunjungan Plaza 3 Lantai 6 pada 29 Januari hingga 8 Februari 2026. Pameran ini terbuka untuk umum tanpa tiket masuk, setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB. Jutaan buku internasional berkualitas hadir dengan harga terjangkau, memberi kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk kembali jatuh cinta pada aktivitas membaca.
Founder Big Bad Wolf Books, Andrew Yap, menilai Surabaya memiliki makna tersendiri dalam perjalanan literasi BBW Indonesia. Selama satu dekade, BBW telah berevolusi dari bazar buku menjadi destinasi literasi yang menghidupkan budaya baca di tengah masyarakat.
“Selama 10 tahun terakhir, Big Bad Wolf Books di Indonesia telah berkembang dari sekadar bazar buku menjadi gerakan literasi yang melibatkan keluarga, komunitas, dan generasi muda. Surabaya menjadi kota pembuka yang sangat bermakna untuk perjalanan BBW Indonesia 2026,” ujar Andrew Yap.
Semangat serupa disampaikan Country Director Big Bad Wolf Books Indonesia, Marthius Wandi Budianto. Menurutnya, jutaan buku yang telah dibawa BBW ke berbagai kota di Indonesia telah menjelma menjadi cerita, kebiasaan baru, dan harapan bagi masa depan generasi muda.
“Sepuluh tahun perjalanan BBW Indonesia menandai puluhan juta buku menemukan jalannya ke rumah, sekolah, dan komunitas. Membaca bukan hanya soal belajar, tetapi pengalaman hidup yang membentuk karakter, budaya, dan kebahagiaan,” ungkap Marthius.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
