Daya tarik visual juga menjadi nilai tambah. Dari amphitheatre dan rooftop lounge, tamu dapat menyaksikan panorama matahari terbit dan terbenam dengan latar pegunungan, langsung dari area penginapan. Momen ini kerap menjadi waktu favorit tamu untuk sekadar duduk, berbincang, atau menikmati kopi hangat di udara dingin Bromo.
Di sektor kuliner, Fresto Hillside Restaurant hadir sebagai ruang temu antara tamu hotel dan masyarakat umum. Restoran berkapasitas hingga 120 orang ini menyuguhkan pemandangan kota dan Gunung Bromo, sekaligus menghadirkan menu khas, salah satunya sego luwuk.
Chef Jambuluwuk Resort & Poshtel, George Edwin, menyebut menu tersebut sebagai upaya memperkenalkan cita rasa lokal.
“Kami ingin tamu merasakan kekhasan daerah, termasuk lewat menu sarapan yang sederhana tapi punya cerita,” ujarnya.
Komitmen terhadap keberlanjutan juga menjadi fondasi pengembangan kawasan ini. Nilai budaya Suku Tengger dihadirkan melalui penamaan ruang dan desain bangunan dengan dominasi material kayu. Di dalam kawasan hotel, dibangun pula aviary terbuka lengkap dengan air terjun buatan dan aneka tanaman untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
“Kami ingin tumbuh bersama lingkungan dan masyarakat sekitar,” tutur Marchella. “Mulai dari melibatkan warga lokal sebagai tenaga kerja, menggandeng petani setempat, hingga menjalankan program sosial di sekitar kawasan.”
Beragam aktivitas bernuansa edukatif turut ditawarkan, seperti jalur tracking alam, farmer experience untuk anak-anak, hingga paket wisata Bromo yang bekerja sama dengan paguyuban jeep lokal.
Dengan pendekatan tersebut, Jambuluwuk Resort & Poshtel Bromo hadir bukan hanya sebagai tempat menginap, melainkan sebagai ruang pengalaman. Tempat di mana wisatawan diajak menikmati Bromo dengan cara yang lebih dekat, lebih santai, dan lebih bermakna—bukan sekadar singgah, tetapi benar-benar tinggal dan merasakan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
