SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Mengelola uang bukan lagi urusan orang dewasa. Di tengah derasnya arus digital dan kemudahan transaksi nontunai, pemahaman soal keuangan justru perlu ditanamkan sejak usia sekolah. Kesadaran inilah yang mendorong lahirnya gerakan literasi keuangan berskala nasional yang menyasar pelajar sekolah menengah pertama (SMP).
Sebanyak sekitar 2.300 siswa SMP di berbagai kota, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang Raya, Bekasi, Bandung, Cimahi, Semarang, hingga Denpasar, terlibat dalam program literasi keuangan JA SparktheDream. Program ini merupakan kolaborasi PT FWD Insurance Indonesia (FWD Insurance) bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) yang kini memasuki tahun keempat pelaksanaannya.
Berbeda dari pembelajaran konvensional, JA SparktheDream tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Program ini dirancang dengan pendekatan ekosistem pembelajaran, yang menghubungkan sekolah, keluarga, dan industri jasa keuangan sebagai satu kesatuan dalam membentuk kebiasaan finansial sehat sejak dini.
Melalui empat sesi pembelajaran interaktif, siswa diajak memahami konsep dasar pengelolaan keuangan dengan cara yang dekat dengan keseharian mereka. Proses belajar dipandu oleh fasilitator PJI bersama guru dan sukarelawan FWD Insurance, memadukan diskusi kelas, platform pembelajaran daring, hingga aktivitas praktik di rumah bersama orang tua.
Di rumah, siswa tidak sekadar mengerjakan tugas. Mereka didorong untuk berdiskusi dengan keluarga, mencatat pengeluaran sederhana, hingga belajar mengambil keputusan finansial sehari-hari. Pendampingan orang tua menjadi kunci agar literasi keuangan tidak berhenti sebagai teori, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan.
Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, Rudy F. Manik, menilai pendekatan ini relevan dengan tantangan generasi muda saat ini.
“Di era digital, anak-anak semakin cepat terpapar berbagai pilihan finansial beserta risikonya. Setelah menjangkau hampir 6.000 siswa sejak 2023, kami ingin pembelajaran JA SparktheDream semakin kontekstual dengan realitas mereka. Melibatkan orang tua dan sekolah sebagai satu ekosistem menjadi fondasi penting agar anak-anak mampu mengambil keputusan finansial yang lebih bijak di masa depan,” ujarnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
