SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di tengah tantangan cuaca yang kerap merugikan petani, secercah harapan datang dari bangku perguruan tinggi. Seorang mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menghadirkan inovasi teknologi yang mampu menjawab persoalan klasik pascapanen padi: proses pengeringan yang lambat dan bergantung pada matahari.
Mahasiswa tersebut adalah Nur Ahmad Justine Ivana, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) Untag Surabaya. Lewat tugas akhirnya, Justin—sapaan akrabnya—berhasil merancang alat pemisah dan pengering gabah berbasis suhu dan kelembapan yang bekerja otomatis dan lebih efisien dibanding metode tradisional.
Inovasi ini lahir dari kegelisahan sederhana yang sering ditemui di lapangan. Saat musim hujan, petani kerap kesulitan mengeringkan gabah, sehingga kualitas hasil panen menurun dan berujung kerugian. Dari situlah Justin mencoba menghadirkan solusi berbasis teknologi yang mudah diterapkan.
Meski kuliah sambil bekerja, mahasiswa Untag Surabaya berhasil menciptakan alat pengering dan pemilah gabah otomatis yang membantu petani menjaga kualitas panen. Foto Surabaya.iNews.id/arif
Alat yang dikembangkan menggunakan mikrokontroler dengan sensor suhu dan kelembapan sebagai pengendali utama proses pengeringan. Sistem pemanas (heater) berfungsi sebagai sumber panas yang dikontrol secara real-time, sehingga suhu tetap stabil dan proses pengeringan berlangsung lebih cepat serta merata.
Tak hanya mengeringkan, alat ini juga mampu memisahkan gabah dari ampas. Proses pemisahan memanfaatkan perbedaan massa jenis dengan bantuan aliran udara dari blower. Dengan mekanisme tersebut, gabah berkualitas dapat terpisah secara otomatis, membuat proses pascapanen menjadi lebih praktis.
“Alat ini dirancang agar petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada cuaca. Setelah panen, gabah bisa langsung dikeringkan sehingga kualitasnya tetap terjaga,” ujar Justin menjelaskan hasil penelitiannya.
Ia menambahkan, sistem yang terintegrasi antara pemisahan dan pengeringan ini berpotensi menekan kerugian akibat kadar air yang tidak stabil, sekaligus meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga petani.
Menariknya, di balik inovasi tersebut, Justin bukan mahasiswa biasa. Ia menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa kelas malam karena harus membagi waktu antara studi dan pekerjaan. Saat ini, Justin juga bekerja. Meski dengan jadwal padat, ia mampu menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK 3,5.
Latar belakang pendidikannya pun selaras dengan bidang yang digeluti. Justin merupakan lulusan SMK Negeri 1 Driyorejo Gresik jurusan Instalasi Tenaga Listrik, setelah sebelumnya mengenyam pendidikan di MTs Raden Fatah Driyorejo. Ketertarikannya pada dunia teknik elektro tumbuh dari minat mengikuti perkembangan teknologi sejak dini.
Selama berkuliah di Untag Surabaya, Justin juga aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Ia tercatat sebagai anggota UKM Pramuka sejak semester awal, serta sempat mengikuti UKM Bulutangkis, menunjukkan keseimbangan antara akademik dan aktivitas nonakademik.
Karya tugas akhir ini menjadi bukti bahwa inovasi teknologi tidak selalu lahir dari laboratorium besar, tetapi juga dari kepedulian terhadap persoalan nyata di masyarakat. Untag Surabaya kembali menegaskan perannya sebagai kampus yang mendorong mahasiswa menghadirkan solusi aplikatif, khususnya untuk mendukung modernisasi pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
