Artinya, program ini tidak hanya memberi akses, tetapi juga membangun kapasitas. Mahasiswa tidak sekadar menjadi peserta, tetapi dipersiapkan menjadi agen inklusi di masa depan.
Ketua pelaksana program, Syaifudin Fitroh—akrab disapa Fitro—mahasiswa Teknik Listrik semester 4 sekaligus anggota UKKI, menyebut kegiatan ini lahir dari kepedulian sederhana: memastikan teman-teman tuli tidak tertinggal dalam suasana Ramadan.
“Kami ingin memastikan teman-teman tuli bisa merasakan suasana Ramadan yang sama—belajar Al-Qur’an, mendengarkan tausiyah, dan berbuka bersama. Harapannya, kegiatan ini tidak hanya berjalan di bulan Ramadan, tetapi bisa berlanjut dan semakin berkembang,” katanya.
Bagi Fitro dan timnya, inklusi bukan sekadar slogan. Ia tumbuh dari empati, lalu diwujudkan dalam aksi nyata.
Program Mengaji Al-Quran Isyarat ini menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya momentum ibadah personal. Lebih dari itu, bulan suci menjadi ruang memperkuat nilai keadilan sosial dan pemerataan akses pendidikan agama bagi seluruh civitas akademika, tanpa terkecuali.
Di Masjid Baitul Makmur UNESA, pesan inklusivitas itu kini tidak hanya terdengar—tetapi juga terlihat, melalui gerakan tangan yang menyampaikan ayat-ayat suci dengan penuh keyakinan.
Dan dari sana, harapan tentang kampus yang benar-benar ramah disabilitas perlahan tumbuh dan mengakar.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
