Berangkat dari Karakter Gen Z dan Gen Alpha
Salwa menjelaskan, ide SELINGO lahir dari kegelisahan mereka melihat metode belajar yang sering kali terasa monoton bagi generasi saat ini.
“Kami mengusung konsep game-based learning karena Gen Z dan Gen Alpha cenderung lebih tertarik belajar melalui media interaktif,” ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran yang terlalu formal dan satu arah sering membuat siswa pasif. Dengan pendekatan berbasis permainan, proses belajar menjadi lebih cair dan tidak terasa menekan.
Dari sisi psikologi, Devita merancang konsep emotional awareness dalam setiap pertanyaan reflektif.
“Urgensinya emotional awareness dalam proses belajar agar siswa tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga belajar memahami kondisi emosinya,” jelas Devita.
Ia menambahkan, kesadaran emosi penting untuk membantu siswa mengelola stres, meningkatkan fokus, serta membangun rasa percaya diri saat berkomunikasi.
Perjalanan menuju panggung internasional tidak sepenuhnya mulus. Persiapan dilakukan sekitar satu bulan, dengan tantangan terbesar pada pengembangan aplikasi yang masih berbentuk prototipe. Revisi desain hingga pengkodean dilakukan dalam waktu yang terbatas.
Di sisi lain, Devita mengaku sempat merasa gugup saat harus mempresentasikan ide di hadapan peserta dari berbagai negara.
“Awalnya saya merasa deg-degan karena mengetahui bahwa bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus. Namun Salwa meyakinkan saya untuk tetap berbicara sebisa saya,” tuturnya.
Untuk mengatasi rasa cemas itu, tim rutin berlatih presentasi bersama, bahkan hingga di area belakang lokasi lomba sebelum tampil.
“Support antar anggota tim sangat penting agar bisa merasa percaya diri dan tidak tertekan,” tambahnya.
Capaian Bronze Medal dan Favorite Poster dalam ISS 2026 bukan hanya soal prestasi, tetapi juga validasi bahwa kolaborasi lintas disiplin mampu melahirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Bagi tim SELINGO, kemenangan ini menjadi awal, bukan akhir. Mereka berencana menyempurnakan aplikasi yang masih berupa prototipe serta melanjutkan riset terkait efektivitas metode game-based learning berbasis kesadaran emosi.
Di tangan generasi muda seperti mereka, pembelajaran bukan lagi sekadar mengejar nilai. Ia bisa menjadi ruang untuk tumbuh, memahami diri, dan berani bersuara—dalam bahasa apa pun
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
