Salah satu tim pemenang, Greenfluence, mengangkat proyek bertajuk PackBack. Mereka melihat persoalan sampah bukan semata kurangnya kesadaran masyarakat, melainkan sistem yang masih terfragmentasi.
“Permasalahan sampah di Indonesia bukan sekadar isu kesadaran, tetapi persoalan sistem yang belum terintegrasi secara menyeluruh. Kami mencoba mengintegrasikan inovasi teknologi ke dalam ekosistem yang relevan dengan kondisi dan perilaku masyarakat Indonesia,” ujar perwakilan tim tersebut.
Bagi para peserta, kompetisi ini menjadi ruang belajar tentang kompleksitas keberlanjutan. Mereka ditantang menyusun solusi berbasis data dan realitas lapangan—mulai dari perilaku konsumen, kesiapan infrastruktur, hingga rantai daur ulang.
Masalah pengelolaan sampah di Indonesia tidak berhenti pada produksi dan konsumsi. Tantangan terbesar justru berada di tahap pasca-konsumsi. Minimnya pemilahan di tingkat rumah tangga serta keterbatasan sistem formal membuat banyak kemasan berakhir di tempat pembuangan akhir atau bahkan mencemari lingkungan.
Kondisi ini menegaskan bahwa inovasi kemasan harus berjalan beriringan dengan penguatan sistem dan perubahan perilaku masyarakat. Tanpa integrasi ketiganya, potensi daur ulang hanya akan menjadi angka di atas kertas.
Melalui ajang ini, lima tim terbaik mendapatkan penghargaan serta dukungan pengembangan atas ide yang telah dirancang. Namun lebih dari itu, kompetisi ini mencerminkan satu hal: generasi muda Indonesia mulai melihat isu sampah sebagai tanggung jawab kolektif, bukan sekadar wacana.
Di tengah krisis lingkungan yang semakin nyata, suara dan gagasan mahasiswa menjadi pengingat bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang diskusi—lalu bergerak menuju implementasi nyata di lapangan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
