Properti Jadi Safe Haven di Tengah Ketidakpastian Geopolitik dan Ancaman Inflasi

Lukman Hakim
Di tengah ancaman inflasi, properti dinilai lebih aman daripada menyimpan uang tunai. Foto : Lukman Hakim.

​SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ketidakpastian geopolitik global yang kian memanas diprediksi bakal memberikan dampak sistemik terhadap berbagai sektor ekonomi, termasuk industri properti

Meski demikian, aset riil seperti hunian masih dipandang sebagai instrumen investasi paling aman (safe haven) untuk menjaga nilai kekayaan dari ancaman inflasi.

Project Marketing & Sales PT Abdael Nusa, Kent Hilman, mengungkapkan bahwa fluktuasi kondisi dunia saat ini membuat potensi kenaikan harga barang dan inflasi sulit diprediksi secara pasti. 

Namun, memegang aset properti dinilai jauh lebih menguntungkan daripada sekadar menyimpan uang tunai saat nilai mata uang berisiko terdepresiasi.

​"Jika terjadi kenaikan harga atau inflasi, memegang aset jauh lebih baik daripada memegang rupiah. Properti memiliki keunggulan karena nilainya akan ikut terkerek naik seiring dengan meningkatnya harga barang-barang di pasar," ujar Hilman, Selasa (17/3/2026).

​Hilman merefleksikan kondisi ini dengan krisis ekonomi 1998. Meski saat itu harga properti sempat terkoreksi akibat krisis kepercayaan, nilainya justru melonjak sangat tinggi saat ekonomi mulai pulih pada periode 2002–2003. "Selalu ada siklusnya, dan saat ini banyak negara mulai mengambil langkah antisipasi terhadap dinamika ekonomi global," tambahnya.

Meski dibayangi isu global, PT Abdael Nusa tetap konsisten melanjutkan pengembangan proyek seperti Harvest Link dan Green Harvest. Menariknya, dalam tiga bulan terakhir, penjualan di proyek Harvest Link tercatat melampaui capaian tahun lalu.

​Pasar di kisaran harga Rp1 miliar hingga Rp2 miliar tetap menunjukkan tren positif, yang kini mulai didominasi oleh Generasi Z sebagai pembeli rumah pertama (first-time home buyers). "Kehadiran rumah contoh dan kebijakan insentif PPN DTP dari pemerintah sangat membantu menarik minat pembeli muda yang mencari skema pembayaran fleksibel," kata Hilman.

Senada dengan Hilman, Direktur Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, mengingatkan masyarakat untuk segera merealisasikan pembelian properti sebelum harga semakin melambung tinggi.

​Sutandi menjelaskan bahwa biaya pembangunan properti sangat sensitif terhadap harga energi global, khususnya minyak bumi. Jika harga minyak dunia menyentuh angka USD150 per barel, maka ongkos konstruksi dipastikan akan membengkak signifikan.

​Selain harga energi, tren inflasi domestik yang mulai merangkak naik ke level 4,7 persen dari sebelumnya di angka 2,2 persen menjadi sinyal waspada bagi calon pembeli.

"Jika inflasi terus naik hingga menyentuh dua digit, harga properti tentu akan mengikuti. Maka, beli sekarang sebelum harga menjadi lebih mahal," tegas Sutandi.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network