Lebih dari sekadar perayaan, Idulfitri di dalam lapas menjadi ruang refleksi yang dalam. Di tengah keterbatasan, para warga binaan memaknai momen ini sebagai titik balik untuk menata masa depan.
Menurut Wayan, sikap positif dan kepatuhan terhadap aturan menjadi indikator penting dalam pengusulan Remisi Khusus Hari Raya. Ia berharap, semangat Idulfitri dapat menjadi bekal perubahan saat mereka kembali ke tengah masyarakat.
“Semoga momen ini menjadi pengingat sekaligus penyemangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya,” tambahnya.
Salat Idulfitri kali ini dipimpin oleh Ustaz Ali Mahrus sebagai imam dan khatib. Dalam khutbahnya, ia mengajak jamaah untuk tidak memadamkan cahaya keimanan, meski berada dalam situasi sulit.
“Bisa jadi, ujian di balik jeruji ini adalah cara Tuhan mendewasakan kita dan memperkuat ketakwaan,” pesannya di hadapan jamaah.
Rangkaian ibadah ditutup dengan doa bersama yang berlangsung khidmat. Suasana semakin hangat ketika warga binaan dan petugas saling bersalaman, memaafkan satu sama lain. Di momen itu, batas antara petugas dan warga binaan seakan memudar, digantikan oleh nuansa kekeluargaan yang tulus.
Di balik keterbatasan ruang dan kebebasan, Idulfitri di Lapas Banyuwangi menghadirkan cerita tentang harapan yang tetap hidup—bahwa setiap orang selalu punya kesempatan untuk berubah dan memulai kembali.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
