SURABAYA, iNewsSurabayaid - Indonesia kerap diposisikan sebagai primadona pariwisata dunia berkat kekayaan alamnya. Namun, keindahan semata tidak otomatis menghadirkan kunjungan. Tanpa strategi komunikasi yang terarah, potensi hanya akan berhenti sebagai lanskap, bukan pengalaman yang dicari wisatawan. Di titik ini, komunikasi pariwisata berperan sebagai penghubung antara daya tarik destinasi dan persepsi publik. Contoh paling relevan dapat dilihat pada Gunung Bromo.
Dalam lanskap industri pariwisata global, Bromo tidak lagi bersaing di level lokal. Ia berada dalam arena kompetisi internasional, berdampingan dengan berbagai destinasi dunia yang sama-sama agresif memanfaatkan kanal digital. Wisatawan mancanegara kini memiliki akses informasi yang luas dan cepat, sehingga keputusan berkunjung sangat dipengaruhi oleh bagaimana sebuah destinasi dikomunikasikan. Tanpa strategi komunikasi yang efektif, Bromo berisiko kalah bukan karena kualitasnya, tetapi karena kalah dalam membangun persepsi.
Bromo bukan sekadar fenomena geologis. Kawasan ini juga memiliki dimensi budaya dan spiritual yang kuat, khususnya bagi masyarakat Suku Tengger. Di sinilah persoalan mendasar muncul, bagaimana kekayaan tersebut dikemas menjadi narasi yang relevan dan menjual, tanpa kehilangan konteks aslinya. Pariwisata tidak lagi hanya menjual pemandangan, tetapi pengalaman yang membekas. Dalam praktiknya, pengalaman ini dibangun melalui cerita, simbol, dan interaksi yang dirancang secara sadar.
Efektivitas komunikasi pariwisata Bromo terlihat dari cara konten visual dan narasi digital diproduksi serta disebarkan. Media sosial telah menggeser cara promosi konvensional menjadi lebih personal dan berbasis pengalaman. Visual matahari terbit di Bromo, misalnya, tidak berhenti sebagai gambar estetis, tetapi berkembang menjadi pintu masuk bagi cerita yang lebih dalam, seperti tradisi Yadnya Kasada. Di titik ini, narasi menjadi pembeda bukan sekadar pelengkap.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
