Di sisi lain Stasiun Gubeng, Reza Rofi’ur Romadani mengambil peran berbeda. Mahasiswa Sistem dan Teknologi Informasi ini membantu di bagian ticketing dan informasi rute perjalanan.
Kemampuannya menjelaskan jalur dan jadwal kereta secara detail membuat antrean menjadi lebih tertata dan cepat. Para pemudik pun merasa lebih tenang karena mendapatkan informasi yang jelas.
Sementara itu, Fadli Bilal mengaku pengalaman ini memberinya pelajaran berharga.
“Kami belajar menghadapi berbagai karakter pemudik. Ini pengalaman nyata yang tidak bisa didapatkan di kelas,” tuturnya.
Kehadiran para mahasiswa ini mendapat respons positif dari masyarakat. Lailatul Zahra, salah satu pemudik, mengaku merasa lebih nyaman berkat bantuan para relawan.
“Mahasiswa di sini sangat membantu. Mereka ramah dan sigap, jadi saya tidak bingung lagi mencari jalur keberangkatan,” katanya.
Hal senada disampaikan Santoso, pemudik tujuan Nganjuk yang baru pertama kali naik kereta.
“Mereka cepat tanggap saat melihat saya kebingungan. Kehadiran mereka sangat membantu,” ungkapnya.
Program ini bukan hanya tentang membantu masyarakat, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran langsung bagi mahasiswa. Mereka dilatih menghadapi situasi nyata, berkomunikasi dengan berbagai karakter, hingga mengambil keputusan cepat di lapangan.
Menariknya, Untag Surabaya merancang program ini agar dapat dikonversi setara dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Langkah ini menjadi terobosan baru dalam dunia pendidikan.
KKN yang selama ini identik dengan pengabdian di desa, kini mulai bertransformasi menjadi lebih fleksibel dan relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.
Program relawan mudik ini menjadi bukti bahwa pengabdian tidak harus jauh dari kota, tetapi bisa hadir langsung di tengah keramaian, tepat saat masyarakat benar-benar membutuhkan bantuan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
