SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Suasana masuk sekolah usai libur panjang Idulfitri biasanya identik dengan rasa malas dan adaptasi ulang. Namun, hal berbeda justru terjadi di SMP Wijaya Putra Surabaya. Alih-alih langsung kembali ke pelajaran formal, para siswa diajak merasakan pengalaman unik: belajar menganyam ketupat dari nol.
Kegiatan bertajuk Ketupat Vaganza ini langsung mencuri perhatian. Setiap siswa memegang janur—daun kelapa muda yang masih segar—dan mencoba merangkainya menjadi bentuk ketupat. Tidak sedikit yang tampak kebingungan di awal, namun suasana hangat dan penuh tawa membuat proses belajar terasa jauh dari kata membosankan.
Di sudut-sudut kelas, terlihat siswa saling membantu. Ada yang sudah terbiasa karena belajar dari keluarga, ada pula yang benar-benar baru pertama kali mencoba. Interaksi sederhana itu justru menghadirkan nuansa kebersamaan yang kental, seolah semangat Idulfitri masih terasa di lingkungan sekolah.
Unik dan penuh makna, siswa SMP di Surabaya memulai hari pertama sekolah usai Lebaran dengan belajar membuat ketupat. Kegiatan ini jadi cara seru melestarikan budaya. Foto ist
Kepala SMP Wijaya Putra Surabaya, Roto Kirono, S.Pd, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pengisi waktu di hari pertama sekolah.
“Melalui Ketupat Vaganza, kami ingin mengembalikan semangat belajar siswa setelah libur panjang. Lebih dari itu, ini menjadi cara sederhana untuk mengenalkan dan menjaga budaya yang mulai jarang dikuasai generasi muda,” ujarnya.
Menurutnya, ketupat bukan hanya makanan khas Lebaran, tetapi juga simbol nilai-nilai kehidupan seperti kebersamaan, kesederhanaan, hingga tradisi saling memaafkan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
