Pandangan serupa disampaikan Tony Antonio. Ia menekankan bahwa kemampuan digital kini menjadi bagian penting dalam konsep 21st Century Skills yang wajib dimiliki peserta didik.
“Anak-anak harus akrab dengan gadget, bukan hanya untuk hiburan, tapi juga untuk belajar,” ujarnya.
Namun, Tony juga mengingatkan bahwa transformasi digital masih menghadapi tantangan besar, terutama soal pemerataan infrastruktur.
“Pendidikan mau pakai digital bagaimana kalau sinyal tidak ada? Ini memang masalah nasional,” katanya.
Meski demikian, ia melihat optimisme dari mulai terbukanya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta. Bantuan pendidikan, program magang, hingga kunjungan industri menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat.
Sementara itu, Direktur Nola School, Caroline Lumengga, menangkap perubahan positif dari akar rumput. Ia melihat semakin banyak institusi pendidikan, termasuk pondok pesantren, yang mulai terbuka terhadap teknologi.
“Saya melihat banyak pondok pesantren yang kini mulai menerima kemajuan teknologi. Ini perkembangan yang sangat baik,” ujarnya.
Bagi Caroline, forum seperti ini bukan hanya soal berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun jejaring yang bisa mempercepat pemerataan pendidikan digital di Indonesia.
“Event ini seperti pintu pembuka. Kalau terus berkembang, dampaknya bisa menjangkau seluruh Indonesia,” pungkasnya.
Di tengah tantangan dan peluang yang ada, satu hal menjadi jelas: masa depan pendidikan tidak lagi bisa dilepaskan dari teknologi. Kini, yang dibutuhkan bukan sekadar kesiapan perangkat, tetapi juga keberanian para pemimpin sekolah untuk berubah dan melangkah lebih maju.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
