Menurut Nabilatus, proses tersebut membutuhkan ketelitian dan fokus tinggi. Meski demikian, pengalaman mengoperasikan perangkat siaran profesional justru memberikan tantangan yang menyenangkan.
“Setiap alat punya fungsi berbeda dan harus dipastikan berjalan normal sebelum taping dimulai. Saat semua sistem sudah siap, ada rasa puas tersendiri karena proses produksi bisa berjalan lancar,” kata Nabilatus.
Ia menilai pengalaman praktik di industri televisi memberikan pemahaman yang jauh lebih nyata dibanding teori yang diperoleh di bangku kuliah. Melalui program magang reguler tersebut, mahasiswa tidak hanya mengamati proses siaran, tetapi juga dilibatkan langsung dalam alur produksi berita televisi.
Mulai dari persiapan studio, memahami sistem kerja produksi, hingga mengenal perangkat broadcasting modern menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa magang.
Selain itu, suasana kerja di lingkungan dinilai cukup suportif bagi mahasiswa yang sedang belajar. Para praktisi dan pembimbing lapangan disebut terbuka dalam membagikan pengetahuan seputar dunia penyiaran televisi.
“Pembimbing di lapangan cukup membantu dan memberikan kesempatan bagi mahasiswa magang untuk belajar langsung menggunakan alat-alat broadcasting,” tambahnya.
Bagi Nabilatus, pengalaman magang di industri media bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan kesempatan untuk memahami secara langsung dinamika kerja di dunia penyiaran profesional.
Penulis: Nabilatus Syarifah (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya)
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
