Soto Boyolali Tantang Dominasi Soto Lamongan di Surabaya, Kisah Warung Keluarga yang Punya 88 Cabang

Trisna Eka Adhitya
Berawal dari usaha keluarga sejak 2002, Spesialis Soto Boyolali berkembang pesat hingga memiliki puluhan cabang dan masuk pasar Surabaya. Foto iNewsSurabaya.id/trisna

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di tengah kuatnya dominasi soto Lamongan yang sudah menjadi bagian dari keseharian warga Surabaya, hadirnya soto khas Boyolali sempat dianggap langkah yang cukup nekat. Namun, dari sebuah resep keluarga yang diwariskan sejak puluhan tahun lalu, Spesialis Soto Boyolali (SSB) justru mencoba mengambil tempat di hati penikmat kuliner Kota Pahlawan.

Di Jalan Kenjeran, aroma kuah hangat yang mengepul dari mangkuk soto perlahan menarik perhatian pelanggan. Bukan kuah kuning pekat ala Lamongan, melainkan kuah bening dengan rasa ringan khas Boyolali yang mulai mencuri rasa penasaran masyarakat.

Bagi sebagian orang, semangkuk soto bukan sekadar makanan pengganjal perut. Ada rasa nyaman, kehangatan, bahkan nostalgia yang ikut tersaji. Itulah yang coba dihadirkan Spesialis Soto Boyolali (SSB), rumah makan yang kini mulai berkembang pesat di Surabaya.

Perjalanan usaha kuliner ini ternyata bukan kisah instan. Pimpinan Proyek (Pimpro) SSB Jalan Kenjeran, Syaifan Kamal, mengungkapkan bahwa bisnis tersebut bermula dari usaha keluarga yang dirintis sejak 2002 sebelum kemudian mengalami perubahan besar pada 2012.

Menurutnya, usaha soto itu awalnya dibangun secara sederhana oleh keluarga sebelum dikembangkan lebih modern oleh Hj Hesti dengan sistem pengelolaan yang lebih tertata.

“Awalnya usaha soto ini dirintis orang tua beliau sejak 2002. Kemudian pada 2012, Ibu Hajah Hesti meminta izin untuk meneruskan dan memodernisasi bisnis dengan sistem manajemen yang lebih rapi,” ujar Syaifan.

Langkah besar dimulai saat outlet modern pertama dibuka di dekat Alun-Alun Klaten pada 6 Mei 2012. Tanggal tersebut kemudian menjadi tonggak lahirnya SSB dalam format bisnis yang lebih profesional.

Siapa sangka, dari kota kecil di Jawa Tengah, usaha kuliner ini perlahan berkembang hingga menembus berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan, momentum penting terjadi ketika pandemi Covid-19 melanda.

Alih-alih stagnan, pembenahan justru dilakukan pada sistem operasional, pengawasan mutu, hingga manajemen cabang pada 2021. Dari sana, ekspansi bisnis semakin cepat dilakukan.

“Outlet Kenjeran ini merupakan cabang ke-86 secara nasional dan yang kedelapan di Surabaya,” kata Syaifan.

Kini, hingga 2026, jaringan SSB telah berkembang menjadi 88 cabang di berbagai daerah, termasuk delapan outlet di Surabaya.

Tak berhenti di dalam negeri, ekspansi juga mulai diarahkan ke pasar internasional. Pada musim haji tahun ini, SSB membuka stan penjualan di Makkah sebagai langkah awal memperkenalkan cita rasa soto Boyolali ke pasar Arab Saudi.

Di Surabaya sendiri, menu favorit pelanggan ternyata masih didominasi soto ayam campur nasi dan soto sapi campur. Ciri khas kuah bening yang ringan disebut menjadi pembeda utama dibanding jenis soto lain.

Menariknya, rumah makan ini juga menerapkan program unik berupa “garansi soto panas”. Jika soto yang diterima pelanggan tidak dalam kondisi panas, pihak outlet siap menggantinya dengan sajian baru.

Tak hanya itu, kualitas makanan juga dijaga melalui sistem penggantian gorengan dan sate-satean secara rutin agar tetap segar.

“Kalau outlet ramai bisa tiap jam diganti baru. Kalau sedang tidak terlalu ramai maksimal tiga jam sekali,” jelasnya.

Sementara itu, Area Manager Jawa Timur SSB, Much Ismail, menegaskan kualitas bahan baku dan aspek kehalalan menjadi perhatian utama perusahaan.

Pengawasan dilakukan mulai dari proses pemilihan pemasok, rumah potong hewan (RPH), hingga distribusi bahan baku ke masing-masing outlet agar standar rasa tetap terjaga.

“Kami benar-benar ketat soal kualitas dan halal. Supplier sampai RPH harus bersertifikat dan sesuai standar kami,” ujar Much.

Menurutnya, kuah bening khas SSB justru membuat soto ini lebih mudah diterima berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga lansia.

“Banyak pelanggan bilang sotonya bening dan ringan. Bahkan anak-anak kalau sakit sering mintanya soto SSB,” katanya.

Selain rasa, kenyamanan pelanggan juga menjadi perhatian. Kebersihan outlet, pelayanan, dan konsistensi kualitas disebut menjadi kunci agar pelanggan datang kembali.

“Kami mengutamakan quality, service, dan cleanliness. Harapannya pelanggan puas lalu merekomendasikan ke keluarga dan rekan-rekannya,” tuturnya.

Di tengah persaingan ketat kuliner soto di Surabaya, kisah SSB menjadi gambaran bagaimana usaha keluarga bisa berkembang lewat konsistensi rasa, keberanian berinovasi, dan upaya menjaga kepercayaan pelanggan—bahkan saat harus menantang dominasi soto Lamongan di kota asalnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network