SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ribuan penonton yang memadati Nicey Nice Festival di Surabaya dibuat bergemuruh saat The S.I.G.I.T naik ke atas panggung. Band rock legendaris asal Bandung itu langsung menyulut antusiasme penggemar dengan membawakan lagu pembuka "Black Amplifier", yang sontak disambut nyanyian massal dari para penonton.
Penampilan The S.I.G.I.T menjadi salah satu momen paling ditunggu dalam festival musik tersebut. Maklum, grup yang dikenal sebagai pelopor skena rock independen Indonesia itu sudah lebih dari dua tahun tidak tampil di Kota Pahlawan. Kerinduan para penggemar yang tergabung dalam komunitas Insurgent Army akhirnya terbayar lunas melalui aksi panggung penuh energi dan atmosfer nostalgia yang kuat.
Sejak lagu pertama dimainkan, area festival berubah menjadi lautan penonton yang ikut bernyanyi dan bergerak mengikuti irama musik khas The S.I.G.I.T. Kehadiran mereka seakan membawa kembali memori kejayaan musik indie rock dan alternative rock yang sempat mendominasi era 2000-an.
The S.I.G.I.T sukses membakar semangat ribuan penonton di Nicey Nice Festival Surabaya. Setelah lebih dari dua tahun absen, band rock asal Bandung ini mengobati kerinduan penggemar lewat penampilan penuh energi. Foto iNewsSurabaya.id/dika
Band yang berdiri sejak 2002 tersebut kini hadir dengan formasi baru yang diperkuat Rektivianto "Rekti" Yoewono, Farri Icksan Wibisana, Absar Lebeh, dan Aghan Sudrajat. Meski mengalami perubahan personel setelah ditinggalkan drummer Acil dan bassist Adit, soliditas mereka di atas panggung tetap menjadi daya tarik utama yang memikat ribuan penonton.
Nama The S.I.G.I.T sendiri merupakan singkatan dari The Super Insurgent Group of Intemperance Talent. Selama lebih dari dua dekade berkarya, mereka dikenal sebagai salah satu band independen Indonesia yang berhasil menembus pasar internasional tanpa kehilangan karakter musik yang kuat.
Tidak hanya The S.I.G.I.T, Nicey Nice Festival juga menghadirkan sederet musisi dan band lintas generasi yang memperkaya pengalaman penonton. Di balik suksesnya acara tersebut, Awan selaku promotor mengungkapkan bahwa proses pemilihan line up dilakukan secara khusus dengan menghadirkan nama-nama yang jarang tampil di Surabaya.
"Kami ingin memberikan pengalaman berbeda bagi penonton. Beberapa musisi yang kami hadirkan sudah cukup lama tidak tampil di Surabaya, bahkan ada yang baru pertama kali datang ke sini," ujar Awan.
Menurutnya, nama-nama seperti Efek Rumah Kaca dan The S.I.G.I.T terakhir kali menyapa penikmat musik Surabaya sekitar dua hingga tiga tahun lalu. Sementara grup seperti Alkahteri dan The Kick justru menjalani debut penampilan mereka di Kota Pahlawan melalui festival tersebut.
Awan menjelaskan bahwa komposisi line up berkembang secara organik selama proses persiapan acara. Awalnya hanya ada beberapa nama dalam konsep awal festival. Namun seiring berjalannya waktu, berbagai kolaborasi dan kedekatan antar musisi membuat daftar pengisi acara semakin beragam.
Salah satu contohnya adalah kehadiran The Kick dan Jibberish dari Yogyakarta yang tengah mendapat perhatian di skena musik independen nasional. Kedekatan mereka dengan sejumlah musisi lain akhirnya membuka jalan untuk tampil bersama di Nicey Nice Festival.
"Walaupun berasal dari generasi yang berbeda, mereka punya benang merah yang sama dalam musik, mulai dari rock, alternative rock hingga rock and roll. Basis pendengarnya juga saling beririsan sehingga bisa dinikmati oleh berbagai kalangan usia," kata Awan.
Melalui perpaduan musisi senior dan talenta baru, Nicey Nice Festival berhasil menjelma menjadi lebih dari sekadar konser musik. Festival ini menjadi ruang bertemunya berbagai komunitas dan generasi penikmat musik independen yang bersatu dalam semangat merayakan perkembangan rock dan alternative rock Indonesia.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
