Selain itu, manajemen membantah anggapan bahwa tingginya angka kematian satwa berkaitan dengan dugaan kelalaian pengelola. Nurika menegaskan tingkat mortalitas satwa di KBS masih berada dalam batas normal dan tidak mengalami lonjakan signifikan dari tahun ke tahun.
"Adapun terjadinya satwa mati itu pastinya sesuatu hal kematian yang normal, bukan menjadi suatu kematian yang dikarenakan kelalaian," tegasnya.
Untuk menjaga kondisi satwa tetap prima, KBS menerapkan jadwal pemberian pakan sebanyak dua kali sehari, yakni pagi dan sore. Jenis maupun jumlah pakan disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi masing-masing spesies.
Selain itu, para perawat satwa juga melakukan interaksi setiap hari agar lebih memahami perubahan perilaku hewan. Cara tersebut dinilai penting untuk mendeteksi lebih dini apabila terdapat tanda-tanda gangguan kesehatan.
Sementara itu, Kepala Departemen Animal Health Perumda KBS, drh. Rahmat Suharta, memastikan tim kesehatan melakukan pemantauan terhadap seluruh satwa setiap hari. Jika ditemukan satwa yang mengalami penurunan kondisi, penanganan medis langsung dilakukan.
"Jadi apabila ada yang mengalami kelainan atau kesehatan yang menurun langsung kita bisa tangani. Jadi untuk satwa-satwa di KBS ini sudah pasti dalam kondisi baik, tidak ada kekurangan makan," ujar Rahmat.
Rahmat juga meluruskan anggapan bahwa satwa bertubuh ramping identik dengan kondisi kurang gizi. Menurutnya, tubuh yang terlalu gemuk justru berisiko memicu gangguan kesehatan, terutama pada jantung dan sistem pernapasan.
Sebagai langkah pencegahan penyakit, KBS rutin melaksanakan program vaksinasi setiap tahun serta pemeriksaan feses secara berkala untuk mendeteksi kemungkinan infeksi parasit atau cacing. Program tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan seluruh koleksi satwa sekaligus memastikan standar kesejahteraan hewan tetap terpenuhi di Kebun Binatang Surabaya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
