PROBOLINGGO, iNewsSurabaya.id – Petugas gabungan menghadapi tantangan berat dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur (Jatim).
Medan yang sulit dijangkau personel dan kendaraan, ditambah angin kencang yang berpotensi membuat api melompat ke area lain, menjadi kendala dalam proses pemadaman.
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak mengatakan, penanganan karhutla saat ini difokuskan pada sejumlah titik yang dinilai rawan, termasuk kawasan Pundak Lembu di sekitar puncak B29 dan Watangan di sisi barat.
“Upaya penanganan kebakaran Gunung Bromo medannya sangat menantang. Ada titik yang tidak bisa dijangkau personel, kendaraan maupun personel yang berjalan kaki menuju lokasi,” kata Emil saat meninjau penanganan karhutla, Minggu (9/8/2026).
Kondisi tersebut membuat petugas harus mengandalkan operasi pemadaman dari udara. Sebanyak tiga unit helikopter dikerahkan untuk melakukan water bombing ke sejumlah titik yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
“Karena itu dilengkapi dengan tiga unit helikopter untuk melakukan water bombing,” ujarnya.
Emil menjelaskan, salah satu fokus pemadaman berada di kawasan Pundak Lembu, titik paling timur dari area kebakaran di sekitar puncak B29. Luas kawasan yang menjadi perhatian mencapai sekitar 500 hektare.
Menurutnya, angka tersebut merupakan luas wilayah yang menjadi fokus penanganan dan tidak berarti seluruh kawasan tersebut terbakar. Namun, terdapat tambahan area terdampak sekitar 250 hektare dalam periode dari Sabtu hingga Minggu pagi.
Selain kawasan B29, petugas juga melakukan penanganan di Watangan di sisi barat serta kawasan Penanjakan. Helikopter water bombing mengambil air dari Ranupani dan Ranuregulo untuk kemudian menjangkau titik-titik kebakaran.
“Satu titik di B29 sudah dilakukan water bombing dan setelah itu dilanjutkan ke Penanjakan,” jelas Emil.
Kesulitan pemadaman juga dipengaruhi kondisi angin. Emil menyebut terdapat jalur Kaldera Tengger selebar sekitar 18 meter yang diharapkan dapat menjadi salah satu batas penyebaran api.
Namun, jalur tersebut belum sepenuhnya dapat diandalkan untuk menghentikan laju api karena hembusan angin yang cukup kencang berpotensi membuat api melompati batas tersebut.
“Ada jalur selebar 18 meter bernama jalur Kaldera Tengger. Namun, jalur tersebut tidak bisa menahan karena angin yang kencang. Dikhawatirkan api bisa meloncati jalur sehingga rerumputan atau alang-alang bisa terbakar,” ungkapnya.
Karena itu, petugas tidak hanya berkonsentrasi memadamkan api, tetapi juga melakukan upaya pencegahan agar kobaran tidak menyebar ke wilayah lain. Area yang telah berhasil dipadamkan tetap dijaga untuk mengantisipasi munculnya kembali api.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, operasi pemadaman dilakukan secara kolektif dengan melibatkan sekitar 200 personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Selain itu, tujuh unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk mendukung penanganan dari darat. Sementara tiga helikopter melakukan water bombing ke titik yang sulit dijangkau.
“Titik yang sudah padam tetap disiagakan damkar dan personel untuk mengantisipasi potensi api sehingga tidak menyebar ke titik lainnya. Semua bergerak menangani wilayah yang 500 hektare dan tetap menjadi kewaspadaan,” kata Emil.
Operasi dari udara juga diperkuat dengan drone sprayer yang memiliki kapasitas angkut sekitar 70 liter air. Peralatan tersebut digunakan untuk melakukan pendinginan terhadap titik yang sudah padam tetapi masih mengeluarkan asap.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah bara kembali memicu kebakaran dan memastikan titik-titik yang telah ditangani tetap dalam kondisi aman.
Di tengah kondisi medan yang sulit dan ancaman angin kencang, upaya pemadaman saat ini masih mengandalkan kombinasi pasukan darat dan operasi udara.
Emil mengatakan berdasarkan perhitungan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), operasi modifikasi cuaca belum dapat dilakukan dalam 10 hari ke depan. Dengan kondisi tersebut, petugas harus mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk mengendalikan kebakaran.
Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan tiga helikopter yang dikerahkan terus dioperasikan untuk membantu pemadaman. Pengambilan air dilakukan dari Ranupani dan Ranuregulo.
“Pemadaman menggunakan tiga helikopter yang beroperasi. Hari ini cuaca cerah dan ada 30 water bombing sehingga titik api bisa segera dipadamkan,” kata Raja Juli.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
