Rahasia Melon Premium Blitar Tembus 13 Brix, Ada Teknologi IoT di Balik Smart Greenhouse

Arif Ardliyanto
Teknologi IoT UWP diterapkan pada Smart Greenhouse Melon di Blitar. Hasil panen melon premium mencapai lebih dari 13 Brix dengan sistem monitoring digital. Foto iNewsSurabaya.id/arif

Untuk mengetahui kondisi iklim mikro di dalam greenhouse, sistem menggunakan sensor SHT20 dengan komunikasi RS485 Modbus RTU. Sensor tersebut digunakan untuk membaca suhu dan kelembapan udara.

Sementara kondisi air dan larutan nutrisi dipantau menggunakan sensor waterproof. Parameter yang diamati meliputi pH, EC/TDS, serta suhu air.

Menurut Suryo, penggunaan komunikasi RS485 Modbus RTU membantu proses pengiriman data dari sensor menuju unit pengendali ESP32-S3 secara stabil.

“Penggunaan komunikasi RS485 Modbus RTU memungkinkan data dari sensor dikirim secara stabil ke unit pengendali ESP32-S3,” ungkapnya.

Data yang terkumpul kemudian dapat diteruskan ke penyimpanan berbasis cloud dan ditampilkan melalui dashboard digital. Dengan sistem tersebut, petani tidak harus selalu datang ke lokasi hanya untuk melakukan pengukuran kondisi greenhouse.

Perubahan ini menjadi penting karena kondisi suhu, kelembapan, air, dan nutrisi memiliki kaitan erat dengan proses pertumbuhan tanaman.

Suryo menjelaskan, sebelum sistem monitoring digital diterapkan, petani lebih banyak melakukan pengukuran secara manual serta mengandalkan pengamatan langsung.

“Sebelum adanya sistem monitoring digital, petani harus melakukan pengukuran secara manual dan mengandalkan pengamatan langsung terhadap kondisi greenhouse. Dengan sistem IoT, parameter lingkungan seperti suhu dan kelembapan dapat dipantau secara lebih terukur. Data tersebut menjadi dasar bagi petani untuk menentukan tindakan budidaya secara lebih cepat dan tepat,” jelasnya.

Bukan Cuma Pantau Suhu, Nutrisi Juga Dikontrol

Smart Greenhouse Melon yang dikembangkan UWP tidak berhenti pada pemantauan kondisi udara. Kondisi larutan nutrisi juga menjadi bagian penting dalam sistem.

Parameter pH, EC/TDS, dan suhu air dipantau secara terintegrasi sehingga petani dapat mengevaluasi kondisi larutan yang diberikan kepada tanaman berdasarkan data.

Konsep tersebut menggabungkan sensor, mikrokontroler, komunikasi data, penyimpanan cloud, hingga dashboard monitoring dalam satu sistem.

Ke depan, teknologi ini juga diarahkan untuk mendukung otomatisasi. Sejumlah fungsi yang disiapkan antara lain pengelolaan nutrisi, pengaturan pH, pengendalian blower atau ventilasi, growlight, alarm kondisi abnormal, pencatatan data otomatis, hingga sinkronisasi data ke cloud.

Namun, penerapan teknologi tidak dilakukan dengan hanya memasang perangkat. Tim UWP juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada kelompok tani.

Petani dikenalkan dengan cara membaca data sensor, memahami grafik perubahan parameter lingkungan, melakukan pengecekan perangkat, hingga memanfaatkan informasi digital sebagai dasar menentukan tindakan budidaya.

Dengan pola tersebut, pengalaman petani tetap menjadi bagian penting dalam proses budidaya, tetapi kini dilengkapi dengan data aktual dari perangkat IoT.

Hasil Panen Melon Tembus Lebih dari 13 Brix

Penerapan teknologi tersebut kemudian diuji melalui hasil panen melon premium dari greenhouse yang dikelola mitra LadangWohIjo Desa Ngaringan.

Evaluasi menunjukkan buah melon memiliki sejumlah karakteristik yang mendukung kualitas premium. Di antaranya pembentukan jaring atau net kulit melon yang rapi dan tebal, bobot buah relatif seragam, serta tingkat kemanisan yang diukur menggunakan parameter Brix.

Hasil pengukuran menunjukkan tingkat kemanisan melon mampu mencapai lebih dari 13 Brix.

“Hasil pengukuran menunjukkan bahwa buah melon yang dihasilkan mampu mencapai lebih dari 13 Brix, sehingga memenuhi target kualitas melon premium dan memiliki daya saing untuk pasar modern,” katanya.

Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pengelolaan lingkungan greenhouse secara terukur dapat mendukung kualitas hasil budidaya.

Selain menghasilkan buah, sistem IoT juga menghasilkan rekam data yang dapat digunakan untuk mengevaluasi proses budidaya. Data tersebut nantinya bisa menjadi acuan ketika petani memasuki siklus tanam berikutnya.

Petani Ingin Kualitas Melon Konsisten

Mitra pengelola greenhouse LadangWohIjo Desa Ngaringan, Yusuf Ro’is Wahyudi, menilai teknologi IoT membawa perubahan dalam cara petani memantau tanaman.

Petani kini tidak hanya melihat kondisi tanaman secara visual, tetapi juga memiliki informasi mengenai suhu, kelembapan, air, dan nutrisi.

“Teknologi IoT ini memberikan perubahan besar dalam cara kami memantau greenhouse. Kami tidak hanya melihat kondisi tanaman secara visual, tetapi juga dapat melihat data suhu, kelembapan, kondisi air dan nutrisi. Data tersebut sangat membantu dalam menentukan tindakan budidaya. Hasil panen juga menunjukkan kualitas yang baik, termasuk tingkat kemanisan yang telah kami ukur dan mencapai lebih dari 13 Brix,” ungkap Yusuf.

Menurut Yusuf, tantangan berikutnya bukan sekadar mengulang keberhasilan satu kali panen. Sistem budidaya harus mampu menjaga kualitas produksi secara konsisten.

“Target kami bukan hanya menghasilkan satu kali panen yang bagus. Kami ingin membangun sistem yang mampu menjaga kualitas produksi dari satu siklus ke siklus berikutnya. Karena itu, monitoring dan pencatatan data menjadi sangat penting,” tambahnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network