Pengembangan berikutnya diarahkan pada integrasi antara monitoring dan otomatisasi. Data sensor nantinya tidak hanya berfungsi sebagai informasi, tetapi juga dapat menjadi dasar untuk mengendalikan perangkat greenhouse.
Beberapa pengembangan yang disiapkan meliputi auto dosing nutrisi, auto pH, pengendalian blower, growlight, alarm, pencatatan histori data, serta sinkronisasi berbasis cloud.
Dengan konsep tersebut, Smart Greenhouse Melon di Desa Ngaringan diarahkan berkembang dari sekadar sistem pemantauan menjadi sistem budidaya presisi yang terintegrasi.
Suryo menegaskan, keberhasilan panen bukan menjadi akhir dari program pengabdian tersebut.
“Kami berharap teknologi yang diterapkan tidak berhenti pada perangkat yang dipasang, tetapi benar-benar dapat digunakan dan dikembangkan oleh mitra. Ke depan, kami ingin mendorong integrasi monitoring, analisis data, dan otomatisasi sehingga greenhouse dapat dikelola dengan prinsip pertanian presisi,” pungkas Suryo.
Kolaborasi perguruan tinggi, teknologi, dan pelaku pertanian tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi Desa Ngaringan untuk menjadi salah satu contoh penerapan Smart Greenhouse berbasis IoT di Kabupaten Blitar.
Lebih jauh, penerapan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi pertanian tidak harus dimulai dari lahan berskala besar. Teknologi pertanian presisi juga dapat dikembangkan dari greenhouse dan kelompok tani di tingkat desa.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
