Ketimpangan Inflasi di Jatim, Kendala Logistik dan Pasokan Diduga Jadi Pemicu

Lukman Hakim
Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pergerakan inflasi di Jawa Timur (Jatim) sepanjang 2026 menunjukkan perbedaan cukup lebar antarwilayah. Tekanan harga di sejumlah kabupaten/kota bahkan berada jauh di atas maupun di bawah rata-rata inflasi provinsi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat, pada Juli 2026 inflasi tahunan atau year on year (yoy) Jatim mencapai 2,87 persen. Kota Surabaya mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,45 persen.

Sementara itu, Kabupaten Banyuwangi mencatat inflasi terendah sebesar 1,73 persen. Selisih antara inflasi tertinggi dan terendah mencapai 1,72 poin persentase.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan harga di Jatim tidak berlangsung seragam. Tekanan inflasi di setiap daerah dapat dipengaruhi oleh kondisi pasokan, distribusi, biaya logistik, serta karakteristik ekonomi masing-masing wilayah.

Disparitas inflasi juga terlihat sejak awal tahun. Pada Januari 2026, inflasi Jatim tercatat 3,29 persen. Kabupaten Sumenep menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi sebesar 5,06 persen. Sebaliknya, Kabupaten Gresik mencatat inflasi terendah sebesar 2,35 persen.

Pada Februari, jarak inflasi antardaerah kembali melebar. Inflasi Jatim tercatat 4,88 persen. Sumenep mencatat inflasi tertinggi sebesar 6,37 persen, sedangkan Gresik berada di posisi terendah dengan 3,96 persen.

Selisih inflasi kedua wilayah tersebut mencapai 2,41 poin persentase. Tekanan inflasi di Sumenep berlanjut pada Maret. Inflasi Jatim tercatat 3,79 persen, sementara Sumenep mencapai 5,31 persen.

Pada April, inflasi Jatim turun menjadi 2,85 persen. Sumenep masih menjadi daerah dengan inflasi tertinggi, yakni 4,13 persen. Banyuwangi mencatat inflasi terendah sebesar 2,22 persen. Memasuki Mei, inflasi Jatim kembali meningkat menjadi 3,49 persen. Sumenep mencatat inflasi 5,12 persen.

Pada Juni, inflasi Jatim berada di angka 3,36 persen. Sumenep kembali mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,48 persen. Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Tulungagung sebesar 2,57 persen.

Peta inflasi kemudian berubah pada Juli. Surabaya menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 3,45 persen. Sementara Banyuwangi berada di posisi terendah dengan 1,73 persen.

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan, disparitas inflasi tidak cukup diatasi hanya dengan menjaga stabilitas harga. Penguatan produksi, efisiensi energi, distribusi, dan konektivitas antardaerah juga diperlukan.

Menurut Emil, ketimpangan inflasi memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar perubahan harga di tingkat konsumen. Ketika kapasitas produksi tidak merata, biaya energi dan logistik tinggi, serta konektivitas belum optimal, tekanan harga akan lebih mudah muncul di sejumlah daerah.

“Kalau kita bicara ketimpangan inflasi, kita tidak bisa hanya melihat harga di hilir. Kita juga harus melihat bagaimana produksi dibangun, bagaimana energi tersedia secara efisien, dan bagaimana konektivitas antarwilayah diperkuat,” ujar Emil dalam sebuah acara di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Rabu (26/8/2026).

Ia mengatakan, Pemprov Jatim telah memiliki sistem informasi harga bahan pokok yang memuat hasil survei harga dari sejumlah pasar rujukan.

Dari data tersebut, pemerintah dapat melihat perbedaan harga antardaerah. Menurut Emil, perbedaan tersebut salah satunya mencerminkan biaya logistik. “Disparitas ini ternyata mencerminkan biaya logistik,” katanya.

Emil menilai penguatan konektivitas menjadi salah satu kunci untuk menekan kesenjangan harga. Hal ini penting karena Jatim memiliki peran strategis sebagai pusat distribusi bagi wilayah Indonesia Timur.

Saat ini, Jatim memiliki tujuh bandara komersial, 37 pelabuhan besar, dan 50 pelabuhan rakyat. Pelabuhan Tanjung Perak juga melayani 21 dari 39 rute Tol Laut. Infrastruktur tersebut membuat Jatim memiliki posisi penting dalam rantai pasok menuju kawasan Indonesia Timur.

“Jatim ini jadi sangat berkomitmen menjadi Gerbang Baru Nusantara, ini strategi ekonomi kita,” ujar Emil.

Menurutnya, penguatan infrastruktur dan konektivitas harus terus dilakukan untuk menjaga daya saing sekaligus memperlancar distribusi barang.

“Semangat pembaruan ini harus muncul karena kalau kita tidak berbenah dari sisi infrastruktur, dari sisi konektivitas, kita akan mengalami kemunduran dari daya saing,” katanya.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network