SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pasar kendaraan elektrifikasi di Jawa Timur mulai menunjukkan perubahan. Bukan hanya penjualan mobil listrik baru yang berkembang, pasar mobil listrik bekas juga mulai bermunculan seiring bertambahnya jumlah kendaraan elektrifikasi yang digunakan masyarakat.
Perubahan tersebut menjadi salah satu gambaran perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Jawa Timur yang disampaikan Regional Sales Manager Chery Indonesia, Joshua Mikhay Kusuma, dalam pemaparan mengenai pasar kendaraan elektrifikasi pada ajang GIIAS Surabaya 2026.
Menurut Joshua, pasar mobil listrik bekas yang saat ini belum sebesar kendaraan bermesin konvensional merupakan kondisi yang wajar. Teknologi kendaraan listrik di Indonesia masih tergolong muda sehingga jumlah kendaraan yang memasuki usia jual kembali belum terlalu banyak.
“Market ini kan masih tumbuh. Jadi kalau ada yang bilang second hand market-nya masih belum ada, ya wajar karena memang umur teknologinya masih muda,” ujar Joshua.
Pasar mobil listrik bekas mulai tumbuh di Jawa Timur. Joshua Mikhay Kusuma mengungkap perkembangan kendaraan elektrifikasi dan harga resmi Chery Q di Surabaya. Foto iNewsSurabaya.id/arif
Ia menilai pertumbuhan pasar mobil listrik bekas justru dapat menjadi salah satu indikator semakin terbentuknya ekosistem kendaraan elektrifikasi. Ketika jumlah kendaraan listrik yang beredar semakin banyak dan memasuki usia pemakaian lebih panjang, transaksi kendaraan bekas diperkirakan ikut meningkat.
Salah satu persoalan yang sebelumnya cukup sering muncul ketika masyarakat mempertimbangkan mobil listrik adalah usia baterai. Komponen tersebut menjadi perhatian karena memiliki peran utama terhadap performa dan nilai kendaraan.
Namun, menurut Joshua, kekhawatiran tersebut mulai berkurang seiring semakin banyak masyarakat yang menggunakan kendaraan listrik dalam aktivitas sehari-hari.
“Angkanya signifikan dibanding tahun lalu. Tahun lalu konsumen masih banyak yang worry masalah baterai, apakah teknologinya baru, safety, apakah awet dipakai,” katanya.
Garansi baterai juga menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan kepastian kepada pemilik kendaraan. Dalam skema tertentu, perlindungan baterai yang masih berlaku dapat menjadi pertimbangan ketika kendaraan berpindah kepemilikan.
Kondisi tersebut membuat calon pembeli mobil listrik bekas tidak hanya melihat harga kendaraan, tetapi juga memperhatikan usia baterai, riwayat pemakaian, serta sisa masa garansi.
“Kalau saya mau beli mobil second, sudah tahu harganya. Saya tidak masalah karena saya mendapatkan yang memang seharusnya saya dapatkan, termasuk sisa garansi dari pengguna pertama,” jelas Joshua.
Perkembangan kendaraan elektrifikasi juga mulai terasa di Jawa Timur. Wilayah ini menjadi salah satu pasar yang diperhitungkan karena pertumbuhan minat konsumen berlangsung di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat.
Joshua mengatakan Jawa Timur memiliki karakter pasar yang menarik karena pertumbuhan kendaraan elektrifikasi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan insentif.
“Kalau dihitung sejak akhir Mei, secara nasional kita sudah sekitar 10.000 SPK. Untuk Jawa Timur sendiri juga cukup kuat,” ungkapnya.
Menurut dia, keputusan konsumen untuk menggunakan kendaraan elektrifikasi semakin dipengaruhi berbagai pertimbangan. Teknologi, efisiensi penggunaan, keamanan, kenyamanan, desain hingga harga menjadi faktor yang ikut membentuk keputusan pembelian.
Dengan semakin banyak kendaraan listrik yang digunakan masyarakat, pengalaman konsumen juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan terhadap teknologi tersebut.
Perkembangan pasar kendaraan elektrifikasi juga terlihat dari semakin beragamnya pilihan mobil listrik. Salah satunya Chery Q yang diperkenalkan dalam rangkaian GIIAS 2026.
Untuk pasar Surabaya, Chery Q dipasarkan dengan harga Rp239,9 juta untuk varian Pure dan Rp259,9 juta untuk varian Rizz. Informasi harga tersebut turut menjadi bagian dari perkembangan segmen mobil listrik kompak di pasar Jawa Timur.
Kehadiran model dengan rentang harga tersebut menunjukkan bahwa persaingan kendaraan elektrifikasi mulai bergerak ke segmen yang lebih beragam. Mobil listrik tidak lagi hanya ditempatkan pada kelas kendaraan dengan harga tinggi, tetapi juga mulai masuk ke ceruk pasar perkotaan yang lebih luas.
Meski demikian, Joshua menilai perkembangan kendaraan elektrifikasi tidak cukup hanya mengandalkan kehadiran produk baru.
“Jadi kita bisa menghadirkan mobil dengan harga yang sangat terjangkau, tetapi tetap dengan fitur yang lengkap,” ujarnya.
Ia menambahkan, ekosistem kendaraan elektrifikasi juga ditentukan oleh kesiapan layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, infrastruktur pengisian daya serta terbentuknya pasar kendaraan bekas.
Bertambahnya kendaraan listrik di jalan raya secara perlahan menciptakan siklus baru dalam industri otomotif. Konsumen pertama menggunakan kendaraan baru, kemudian dalam beberapa tahun kendaraan tersebut berpotensi masuk ke pasar mobil bekas.
Dari sisi konsumen, kondisi ini dapat memperluas pilihan kendaraan listrik berdasarkan kemampuan dan kebutuhan. Sementara dari sisi industri, semakin ramainya kendaraan bekas dapat menjadi tanda bahwa teknologi tersebut mulai memiliki siklus kepemilikan yang lebih panjang.
Karena itu, perkembangan pasar mobil listrik di Jawa Timur tidak hanya dapat dilihat dari angka penjualan kendaraan baru. Munculnya transaksi mobil listrik bekas, meningkatnya kepercayaan terhadap baterai, serta semakin beragamnya pilihan kendaraan menjadi bagian dari proses terbentuknya ekosistem elektrifikasi.
Pasar tersebut diperkirakan masih akan berkembang seiring bertambahnya usia kendaraan listrik yang telah beredar. Dengan begitu, mobil listrik bekas berpotensi menjadi salah satu segmen baru yang ikut menentukan arah industri otomotif Jawa Timur dalam beberapa tahun mendatang.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
