Air Lancar, Panen Bertambah: Kisah Petani Tanggulangin Dongkrak Ekonomi Desa

Hendro Djatmiko
Sawah makin produktif, petani Tanggulangin merasakan dampak ekonomi dari pengairan. (Foto : Hendro Djatmiko).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Dulu, keterbatasan air membuat petani di Tanggulangin, Sidoarjo, harus menerima kenyataan bahwa lahan pertanian mereka hanya bisa ditanami sekali dalam setahun. Kini, kondisi itu perlahan berubah.

Bagi Sutikno, anggota Kelompok Tani Sumber Makmur 1, Tanggulangin, Sidoarjo, perubahan tersebut bukan sekadar soal bertambahnya hasil panen. Perbaikan sistem pengairan membuat lahan yang selama ini bergantung pada ketersediaan air menjadi lebih produktif sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Salah satu perubahan yang dirasakan masyarakat datang melalui penyempurnaan pompa air sungai yang dilakukan dalam rangka program pemberdayaan PT Pertamina Gas Operation East Java Area (Pertagas OEJA) melalui Cakra Sembada, yang terintegrasi dalam payung besar Cita Sembada.

“Dulu pengairannya terbatas. Setelah ada penyempurnaan pompa air dari sungai, sekarang pengairan jauh lebih baik. Kalau dulu kami hanya bisa panen satu kali dalam setahun, sekarang bisa sampai empat kali panen,” ujar Sutikno, Jumat (28/8/2026).

Produktivitas lahan juga semakin berkembang dengan penerapan sistem tumpangsari, sehingga petani tidak hanya mengandalkan satu jenis tanaman dalam satu periode. Pola tersebut membuat lahan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal sekaligus membuka sumber pendapatan yang lebih beragam bagi petani.

Menurut Sutikno, dampak perubahan itu mulai terasa tidak hanya di sawah, tetapi juga dalam kehidupan ekonomi masyarakat desa.

“Dengan sistem tumpangsari, hasilnya lebih menjanjikan. Sekarang masyarakat bisa lebih sering panen dan penghasilannya juga meningkat,” katanya.

Perubahan paling menarik justru terlihat dari meningkatnya minat generasi muda terhadap pertanian. Jika sebelumnya sebagian pemuda memilih bekerja sebagai buruh pabrik, kini sejumlah di antaranya mulai melihat sektor pertanian sebagai pekerjaan yang memiliki prospek.

“Banyak pemuda yang dulu bekerja sebagai buruh pabrik sekarang mulai fokus ke pertanian karena hasilnya cukup menjanjikan. Mereka melihat bertani sekarang bisa memberikan penghasilan yang lebih baik,” tutur Sutikno.

Dampaknya pun merembet ke sektor lain. Meningkatnya produktivitas lahan membuat permintaan terhadap lahan pertanian ikut tumbuh. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan nilai sewa tanah di kawasan tersebut.

“Bukan hanya petaninya yang terbantu. Sewa tanah juga ikut naik karena lahan sekarang lebih produktif. Jadi hampir semua warga desa merasakan dampaknya,” ujarnya.

Cerita tersebut menunjukkan bahwa persoalan air di sektor pertanian dapat memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar menentukan berhasil atau tidaknya sebuah musim tanam.

Ketika air tersedia dengan lebih baik, petani memiliki kesempatan memperpanjang masa tanam. Ketika masa tanam bertambah, frekuensi panen meningkat. Dari sana, roda ekonomi masyarakat ikut bergerak.

Bagi Pertagas OEJA, pendekatan pemberdayaan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui program Cakra Sembada. Program ini tidak hanya berorientasi pada produksi pertanian, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan nilai tambah dan memperkuat ekonomi desa. Hal tersebut sejalan dengan keterangan manajemen Pertagas OEJA mengenai tujuan Cakra Sembada dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

Community Development Officer OEJA Al Rosyid Anggi Satrya sebelumnya menjelaskan bahwa Cakra Sembada merupakan pengembangan dari Cita Sembada dengan pendekatan yang mencakup sejumlah pilar pemberdayaan masyarakat.

“Transformasi ini membawa semangat baru melalui empat pilar utama, yakni Tirta Sembada, Bhumi Sembada, Dhana Sembada, dan Ambara Sembada,” ujar Rosyid.

Dalam konteks Kelompok Tani Sumber Makmur 1, penguatan sistem pengairan menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan dasar di sektor pertanian dapat dihubungkan dengan upaya peningkatan produktivitas dan ekonomi masyarakat.

Bagi Sutikno dan para petani lainnya, perubahan itu kini dapat dilihat langsung dari lahan yang semakin produktif.

Dari satu kali panen menjadi empat kali panen. Dari keterbatasan air menjadi pengairan yang lebih terjamin. Dari pemuda yang memilih bekerja di pabrik hingga munculnya generasi yang kembali melihat pertanian sebagai sumber penghidupan.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network