Kerugian Persebaya Capai Rp20 Miliar, Ini Penyebabnya

Arif Ardliyanto
Persebaya mengungkap kerugian sekitar Rp20 miliar dalam sembilan tahun akibat denda, laga tanpa penonton, laga usiran, hingga kerusakan fasilitas. Denda flare Rp50 juta bahkan setara biaya operasional Bonek Panti selama empat bulan. (Foto: Istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id — Kecintaan terhadap klub tidak hanya diukur dari seberapa keras dukungan yang terdengar dari tribun. Bagi Persebaya Surabaya, ada konsekuensi finansial yang harus ditanggung ketika dukungan suporter berujung pelanggaran.

Dalam sembilan tahun terakhir, berbagai kejadian yang merugikan klub disebut telah menimbulkan beban finansial hingga sekitar Rp20 miliar. Kerugian tersebut tidak hanya berasal dari denda, tetapi juga hilangnya pemasukan akibat pertandingan tanpa penonton atau laga usiran hingga biaya memperbaiki kerusakan stadion dan Persebaya Store.

Besarnya angka tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Launching Synergy Persebaya yang digelar di halaman Balai Kota Surabaya, Sabtu (29/8/2026). Dalam agenda itu, Persebaya memperkenalkan skuad yang akan tampil di Super League 2026/2027 sekaligus menyampaikan pentingnya membangun hubungan yang lebih sehat antara klub dan seluruh elemen pendukungnya.

CEO Persebaya Azrul Ananda mengatakan klub profesional tidak bisa berkembang hanya dengan mengandalkan kerja pemain dan pelatih. Bonek, sponsor, Pemerintah Kota Surabaya, serta seluruh keluarga besar Persebaya juga memiliki peran penting.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah konsekuensi dari pelanggaran yang terjadi di stadion. Salah satunya penyalaan flare yang dapat membuat klub mendapatkan sanksi denda.

"Yang ingin kami bangun bukan sekadar hubungan antara klub dan suporter, tetapi bagaimana kita bersama-sama memperbanyak kebaikan dan menghilangkan hal-hal yang merugikan Persebaya dan Surabaya," ujar Azrul.

Persebaya menggambarkan besarnya dampak denda melalui contoh sederhana. Untuk pelanggaran penyalaan flare, denda paling ringan disebut dapat mencapai sekitar Rp50 juta.

Jika dibandingkan dengan kebutuhan operasional Bonek Panti yang berada di kisaran Rp13 juta per bulan, uang Rp50 juta tersebut sebenarnya memiliki nilai yang cukup besar.

Nominal tersebut setara dengan biaya operasional panti selama kurang lebih empat bulan.

Perbandingan itu menunjukkan bahwa denda bukan sekadar angka yang tercatat dalam laporan klub. Setiap rupiah yang keluar untuk membayar sanksi sebenarnya bisa dialihkan untuk kegiatan lain yang memberikan manfaat.

Dana tersebut, misalnya, dapat digunakan untuk membantu panti asuhan, mendukung pembinaan, atau menjalankan kegiatan sosial yang melibatkan komunitas suporter.

Karena itu, Persebaya ingin mengajak Bonek melihat dukungan kepada klub dari perspektif yang lebih luas. Semangat di tribun tetap dibutuhkan, tetapi dukungan tersebut diharapkan tidak justru menimbulkan kerugian bagi klub.

Beban Rp20 miliar yang disebut Persebaya dalam sembilan tahun terakhir juga tidak semata-mata berasal dari akumulasi denda.

Klub harus menghadapi potensi kehilangan pendapatan ketika pertandingan digelar tanpa penonton maupun ketika tim harus menjalani laga usiran. Belum lagi biaya yang muncul akibat kerusakan fasilitas, termasuk stadion dan Persebaya Store.

Kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena pendapatan tiket sendiri bukan sumber utama yang mampu menutup seluruh kebutuhan operasional tim.

Persebaya menyebut pemasukan dari tiket pertandingan rata-rata hanya mampu menutup sekitar 15 persen biaya operasional tim dalam satu musim.

Dengan kondisi tersebut, kerugian akibat sanksi maupun insiden di luar pertandingan tidak bisa dianggap sebagai persoalan kecil. Dampaknya dapat merembet pada kemampuan klub membiayai berbagai kebutuhan selama satu musim.

Bonek Didorong Jadi Kekuatan yang Menguntungkan Klub

Azrul menegaskan, Bonek tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Persebaya. Dukungan suporter di stadion merupakan salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki klub.

Namun, energi tersebut diharapkan dapat diarahkan menjadi sesuatu yang lebih produktif dan memberikan keuntungan bagi Persebaya maupun Kota Surabaya.

"Bonek adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Persebaya," tegasnya.

Melalui semangat sinergi yang dibangun memasuki musim 2026/2027, Persebaya berharap dukungan dari tribun tidak lagi berujung pada kerugian yang harus ditanggung klub.

Sebab, semakin kecil uang yang terbuang untuk denda, kerusakan maupun sanksi pertandingan, semakin besar pula ruang bagi Persebaya untuk mengalokasikan sumber daya bagi kebutuhan tim dan program-program positif lainnya.

Bagi klub, menjaga Persebaya bukan hanya soal memenangkan pertandingan. Menjaga klub juga berarti memastikan setiap dukungan yang diberikan Bonek benar-benar menjadi kekuatan untuk membawa tim terus berkembang.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network