JAKARTA, iNewsSurabaya.id - Kisah perjuangan pedangdut dan penyintas kanker, Aida Saskia, menjadi cerminan nyata tentang kekuatan rasa syukur serta keajaiban yang menyertai keteguhan hati. Setelah lima tahun berjuang melawan kanker stadium 3 grade 3, pelantun lagu Ayam Jago ini sempat berada dalam kondisi sangat kritis hingga keluarga dan tim medis sempat mengkhawatirkan keselamatan jiwanya.
Perjalanan menghadapi penyakit tersebut diwarnai dengan komplikasi berat yang menyerang sistem saraf. Serangan stroke sempat membatasi geraknya, mengganggu fungsi motorik, hingga membuatnya kesulitan berinteraksi.
Saat menjalani perawatan insentif di rumah sakit, Aida membeberkan betapa berat titik terendah yang harus ia lewati kala itu.
"Kondisinya di rumah sakit sampai cadel, meggak bisa bergerak, enggak bisa beraktivitas sama sekali. Sampai terjadi stroke kan kemarin, ngomong aja udah cadel terus sampai ngeracau karena sarafnya udah terganggu," ujar Aida Saskia saat ditemui di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Ujian kesehatannya tak berhenti di situ. Penumpukan cairan di dalam otak sempat membuat harapan untuk pulih kian menipis di mata medis maupun keluarga.
"Sampai ada cairan di otak. Terus tiba-tiba yang sudah disangka-sangka tidak ada umur, tiba-tiba sekarang bisa pulih lagi kayak gini," kata Aida.
Kini, keajaiban kesembuhan menghampiri Aida. Tubuhnya perlahan membaik dan ia telah diperkenankan kembali beraktivitas. Kendati demikian, Aida menyadari bahwa ikhtiar menjaga kesehatan membutuhkan kedisiplinan serta komitmen jangka panjang.
Berdasarkan petunjuk dokter, Aida diwajibkan menjalani kontrol berkala dan tidak diperbolehkan menghentikan konsumsi obat-obatan secara sembarangan demi menjaga stabilitas imun tubuhnya.
"Masih tetap harus setiap bulan sampai 7 tahun ke depan kata dokter minimal harus tetap berobat ya, enggak boleh putus obat. Ada suntik Zoladex sampai 5 tahun ke depan, untuk Tamofen juga sampai 7 tahun," kata Aida.
Di samping menjalani prosedur medis secara tertib, Aida memetik pelajaran berharga bahwa kesehatan mental dan ketenangan jiwa memegang peranan krusial dalam mendukung daya tahan tubuh. Ia berkomitmen untuk senantiasa merawat kebahagiaan dan mengikis beban pikiran yang tidak perlu.
Bagi Aida, menjaga suasana hati tetap positif merupakan benteng utama untuk mencegah penurunan imunitas tubuh di masa pemulihan.
"Mental itu hal yang terpenting ya. Kebahagiaan itu, happy itu harus nomor pertama gitu loh. Karena kalau misalkan kita galau, memikirkan sesuatu hal yang tidak sebaiknya dipikirkan, itu mempengaruhi imun juga, jadi cepat drop," ujar Aida.
Pengalaman berharga melewati badai selama lima tahun ini melahirkan keinsafan mendalam bagi Aida Saskia. Kembali diberikannya nikmat sehat dan kesempatan beraktivitas menyadarkannya untuk terus memelihara rasa syukur, menjaga keseimbangan fisik dan jiwa, serta menyongsong hari esok dengan penuh optimisme.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
