SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kenaikan harga di Jawa Timur (Jatim) pada Agustus 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Jatim sebesar 3,32 persen secara tahunan (year on year/y-on-y), sementara inflasi nasional berada di level 3,19 persen.
Secara bulanan Jatim juga mengalami inflasi sebesar 0,34 persen. Sementara inflasi sejak awal tahun hingga Agustus 2026 mencapai 1,82 persen. Pada Agustus 2026 terjadi inflasi year on year sebesar 3,32 persen. “Secara month to month sebesar 0,34 persen, sedangkan year to date sebesar 1,82 persen,” ujar Plt Kepala BPS Jatim Herum Fajarwati dalam rilisnya, Selasa (1/9/2026),
Lebih tingginya inflasi Jatim dibandingkan nasional tidak lepas dari kenaikan harga sejumlah kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan konsumsi masyarakat. Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. Kelompok ini mengalami inflasi 4,36 persen secara tahunan dan memberikan andil 1,20 persen terhadap inflasi Jatim.
Di dalamnya, subkelompok makanan mencatat inflasi lebih tinggi, yakni 4,61 persen. Sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang utama, seperti daging ayam ras dengan andil 0,29 persen, kemudian daging sapi, cabai rawit dan minyak goreng masing-masing 0,13 persen, serta beras 0,11 persen.
Tekanan harga juga datang dari sektor transportasi. Kelompok transportasi mengalami inflasi 4,65 persen secara tahunan dengan andil 0,58 persen terhadap inflasi Jatim.
Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi paling tinggi, yakni 9,09 persen, dengan andil 0,64 persen. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang dominan mendorong inflasi.
Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah kebutuhan lain, antara lain bensin, angkutan udara, kontrak rumah, biaya pendidikan, telepon seluler, sepeda motor, mobil, hingga makanan dan minuman di restoran.
Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi. Bawang merah memberikan andil deflasi terbesar sebesar 0,18 persen, disusul telur ayam ras 0,11 persen, kelapa 0,05 persen dan tomat 0,02 persen. Namun, penurunan tersebut belum cukup untuk menahan inflasi Jatim yang masih berada di atas rata-rata nasional.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
