SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Nilai impor Jawa Timur (Jatim) sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai USD19,52 miliar, naik 16,56 persen dibanding periode yang sama 2025 yang sebesar USD16,74 miliar.
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jatim, Ir. Herum Fajarwati, M.M., mengatakan peningkatan tersebut ditopang kenaikan impor baik sektor nonmigas maupun migas.
“Impor nonmigas meningkat 14,16 persen dari USD13,94 miliar menjadi USD15,91 miliar. Sementara impor migas naik 28,48 persen dari USD2,81 miliar menjadi USD3,61 miliar,” kata Herum dalam rilisnya Sabtu (5/9/2026).
Kinerja impor juga meningkat pada Juli 2026. Nilai impor Jatim mencapai USD3,01 miliar atau naik 19,50 persen dibandingkan Juli 2025. Impor nonmigas tercatat USD2,52 miliar, naik 22,30 persen, sedangkan impor migas mencapai USD490 juta atau meningkat 6,80 persen.
Dari komoditas nonmigas, sejumlah golongan barang mencatat kenaikan signifikan. Impor buah-buahan (HS 08) meningkat 35,87 persen atau bertambah USD214,49 juta. Impor terbesar komoditas ini berasal dari Tiongkok sebesar USD740,29 juta dan Thailand USD16,88 juta.
Kenaikan juga terjadi pada impor besi dan baja (HS 72) sebesar 28,04 persen atau USD245,05 juta serta pupuk (HS 31) sebesar 26,88 persen atau USD181,31 juta.
Sementara itu, mesin dan peralatan mekanis (HS 84) yang menjadi kontributor terbesar impor nonmigas meningkat 13,70 persen, dari USD1,47 miliar menjadi USD1,67 miliar. Komoditas tersebut terutama berasal dari Tiongkok senilai USD872,82 juta dan Korea Selatan USD117,05 juta.
Secara keseluruhan, sepuluh golongan barang nonmigas terbesar menyumbang 58,61 persen terhadap total impor nonmigas Jatim selama Januari-Juli 2026. Nilai impor kelompok tersebut juga tumbuh 16,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan negara asal, Tiongkok masih menjadi pemasok terbesar barang nonmigas ke Jatim. Nilai impornya mencapai USD6,32 miliar atau berkontribusi 39,74 persen terhadap total impor nonmigas.
Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat dengan USD888,57 juta atau 5,59 persen dan Korea Selatan USD651,84 juta atau 4,10 persen.
Dari Tiongkok, komoditas impor terbesar antara lain mesin dan peralatan mekanis senilai USD872,82 juta, buah-buahan USD740,29 juta, serta besi dan baja USD659,72 juta.
Sementara itu, impor nonmigas dari kawasan ASEAN mencapai USD1,75 miliar atau naik 0,39 persen dibandingkan periode yang sama 2025. Singapura menjadi pemasok terbesar dari kawasan tersebut dengan nilai USD509,60 juta, disusul Thailand USD491,94 juta.
Adapun impor nonmigas dari Uni Eropa mencapai USD947,58 juta atau meningkat 11,50 persen. Jerman menjadi pemasok terbesar dari kawasan tersebut dengan nilai USD306,60 juta, disusul Italia USD177,54 juta.
Secara keseluruhan, impor dari 13 negara/wilayah/entitas asal utama mencapai USD11,81 miliar atau 74,21 persen dari total impor nonmigas Jatim. Nilai tersebut meningkat 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan penggunaan barang, impor Jatim masih didominasi bahan baku dan penolong. Nilainya mencapai USD15,57 miliar atau 79,75 persen dari total impor selama Januari-Juli 2026.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
