SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Program SMA Double Track di Jawa Timur (Jatim) terus diarahkan untuk membekali siswa dengan keterampilan. Program ini juga untuk mendorong siswa menghasilkan produk dan jasa yang memiliki pasar dan berkembang.
Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam monitoring dan evaluasi (monev) Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Kabupaten Ponorogo, Senin (7/9/2026).
Dalam forum tersebut, sekolah memaparkan praktik baik, perkembangan program, serta berbagai kendala yang dihadapi. Sejumlah alumni yang telah menjalankan usaha juga turut membagikan pengalaman mereka.
Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, evaluasi program harus mampu menghasilkan solusi konkret dan tidak berhenti pada pengukuran administrasi maupun capaian transaksi.
“Lewat FGD ini, sekolah bisa menyampaikan praktik baik, tantangan dan kendala. Kami juga melihat dampak Double Track terhadap usaha alumni,” ujar Aries.
Di Ponorogo, program SMA Double Track dilaksanakan di 10 SMA negeri dengan 22 rombongan belajar (rombel). Program tersebut melibatkan 631 siswa dan 109 Kelompok Usaha Siswa (KUS), dengan jumlah alumni mencapai 4.289 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.824 alumni atau 42,47 persen telah bekerja. Sementara 366 alumni lainnya tercatat berwirausaha. Dari sisi transaksi, capaian program mencapai Rp161,1 juta atau 75,79 persen dari target Rp214,7 juta.
Meski demikian, Aries menegaskan keberhasilan Double Track tidak semata-mata diukur berdasarkan nilai transaksi yang dihasilkan.
“Target kita bukan sekadar angka transaksi, melainkan membangun ekosistem usaha siswa yang sehat dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menurut Aries, siswa perlu memiliki kemampuan yang lebih lengkap, mulai dari mengembangkan kompetensi, mematangkan produk atau jasa, melakukan pemasaran, menjual produk, hingga membangun pendapatan secara mandiri.
Untuk itu, Dindik Jatim mendorong penerapan konsep 5P, yakni pelajari, produksi, pasarkan, pelanggankan, dan perbesar.
Sekolah juga diarahkan memiliki satu hingga tiga produk unggulan yang didukung kualitas produk, branding, kemasan, katalog, konten digital, repeat order, serta kemitraan yang kuat.
Strategi pemasaran dikembangkan melalui tiga jalur, yakni pasar internal sekolah, pasar lokal, dan pasar digital. Dengan pola tersebut, produk siswa diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan pembelajaran, tetapi mampu masuk ke pasar secara nyata.
Namun, pelaksanaan program masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan modal, bahan praktik, peralatan, hingga kemampuan pemasaran digital.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
