Andrean Pradipta, Technical Public Relations ASUS Indonesia, menjelaskan penggunaan material tersebut menjadi bagian dari upaya ASUS menggabungkan desain tipis dengan ketahanan perangkat.
“Zenbook punya material khusus. Kami selalu menggunakan material yang lebih kuat dan ringan, sehingga tetap bisa mempertahankan desain tipis tanpa mengabaikan ketahanan,” jelas Andrean.
Salah satu perangkat Zenbook bahkan memiliki bobot sekitar 990 gram. Dengan desain tersebut, laptop ditujukan bagi pengguna yang membutuhkan perangkat ringan untuk mobilitas tinggi, termasuk mereka yang sering bekerja atau berpindah tempat.
ASUS juga menyebut Ceraluminum memiliki ketahanan yang tinggi dibandingkan material laptop konvensional. Penggunaan material tersebut menjadi salah satu pendekatan untuk menjaga perangkat tetap kokoh meski memiliki desain tipis dan ringan.
Ketahanan perangkat kemudian dipadukan dengan layanan purnajual. ASUS memperluas masa perlindungan untuk sejumlah lini laptopnya.
ASUS ProArt, Zenbook, serta Vivobook S series dan Vivobook Flip mendapatkan hingga 3 tahun garansi internasional dan 3 tahun ASUS VIP Perfect Warranty (ADP). Sementara Vivobook classic mendapatkan hingga 2 tahun garansi internasional dan 2 tahun ASUS VIP Perfect Warranty.
Jaringan layanan ASUS kini disebut mencapai 141 titik layanan resmi di Indonesia, dengan dukungan layanan internasional di lebih dari 90 negara.
Hal ini menjadi penting bagi pengguna yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Perangkat yang dibeli di Indonesia tetap dapat memperoleh dukungan layanan di negara lain sesuai ketentuan garansi yang berlaku.
“Service, jangkauan luas. Beli di Indonesia, tiba-tiba di Malaysia bisa diperbaiki di sana,” kata Brama.
Untuk pengguna Zenbook, ProArt, dan ROG, ASUS juga menyediakan layanan Premium Service seperti Fastlane, layanan jemput-antar perangkat melalui Free Round-Trip Shipping, serta Laptop Spa untuk membantu menjaga kondisi perangkat.
Dalam kesempatan yang sama, ASUS juga memaparkan posisi bisnisnya di pasar laptop Indonesia. Brama menyebut ASUS memiliki sekitar 38 persen pangsa pasar laptop, sementara pada segmen gaming angkanya mencapai sekitar 39 persen.
Pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan perubahan kebutuhan konsumen. Laptop tidak lagi hanya digunakan untuk mengetik dokumen atau mengakses internet, tetapi juga untuk membuat konten, mengolah data, bermain gim, hingga menjalankan berbagai aplikasi berbasis AI.
ASUS juga memperkuat jajaran laptop dengan kemampuan AI. Sejumlah lini Zenbook, Vivobook S series, dan ProArt dibekali Neural Processing Unit (NPU) dengan performa hingga lebih dari 50 TOPS dan mencapai 80 TOPS pada varian tertinggi.
Keberadaan NPU memungkinkan sebagian beban pemrosesan AI ditangani secara khusus sehingga prosesor utama dapat berkonsentrasi pada pekerjaan lain. ASUS juga menghadirkan tombol Copilot pada sejumlah perangkat serta aplikasi ASUS Virtual Assistant Omni yang dapat menjalankan fungsi AI secara offline.
Selain itu, ASUS memperkenalkan platform AI Agent bernama ASUS Zenni Claw. Platform tersebut dirancang untuk membantu pengguna menjalankan pekerjaan dalam beberapa tahap, mulai dari membuat draf presentasi, menyusun itinerary perjalanan hingga merangkum informasi.
Kemampuan pemrosesan secara lokal, cloud maupun hybrid juga memberikan pilihan bagi pengguna dalam menentukan kebutuhan performa, kecepatan, dan privasi data.
Melalui kombinasi desain tipis dan ringan, pengujian ketahanan, kapasitas baterai yang tetap berada di bawah batas umum penerbangan, serta perluasan layanan purnajual, ASUS berupaya menempatkan laptop bukan sekadar perangkat kerja, tetapi sebagai perangkat yang dapat digunakan untuk mobilitas jangka panjang.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
